Jambi.. Kesan pertama saat saya menginjakkan kaki di Jambi adalah,suasana yang panas yang menyengat.Beda sama di Jogja yang cenderung panasnya agak teduh. Tapi, pikiran kita langsung tergambarkan ke suatu
provinsi yang memang gak sebesar kota kota lainnya terutama Jogja. Tetapi,
kota ini mempunyai luas wilayah yang sangat luas ketimbang di Jogja.
Hanya Jogja menang dari sisi pariwisata dan padatnya orang- orang yang hilir mudik kesana kemari mengunjungi tempat wisata,sekolah,kantor bahkan beberapa mall yang sudah didirikan beberapa tahun yang lalu.
Hanya Jogja menang dari sisi pariwisata dan padatnya orang- orang yang hilir mudik kesana kemari mengunjungi tempat wisata,sekolah,kantor bahkan beberapa mall yang sudah didirikan beberapa tahun yang lalu.
Saya ingat,sebelas tahun yang lau,saya sedang berlarian ke
rumah teman- teman sebaya saya bahkan bisa lebih tua dari saya atau bahkan jauh
dibawah saya. Ya..saat umur 6 tahun,dan tepatnya di tahun 2000,saya bersekolah
TK di Jambi. Jambi menyimpan banyak kenangan manis,khususnya masa childhood
saya. Sewaktu TK,umur saya 6 tahun. Memang satu tahun lebih tua daripada anak
TK lainnya yang berumur 5 tahun pada masa itu. Alasan saya masuk TK dengan umur
6 tahun memang sedikit tidak masuk akal. Takut sekolah. Yaa mau digimanaain
lagi? Memang dari awal sifat saya yang pemalu ini ternyata menghambat saya
untuk bersekolah.
Di post saya sebelumnya, saya menuliskan saat- saat datang
ke Jambi pertama kali saat liburan,nah di post saya yang skarang,saya ingin
menutup perjalanan saya saat di Jambi. Agak sedikit sedih sih saat terakhir
kali melambaikan tangan dan melihat Bandara Sultan Thaha.
Petualangan saya di Jambi tuntas sudah. Mulai dari melihat lihat
rumah kontrakan saya yang lama, belanja ke Pasar Angso Duo yang terkenal dengan
barangnya dagangannya yang murah- murah,goes to Palembang, Jalan ke Candi Muaro
Jambi,ke Anjungan rumah adat, hingga
kedatangan tamu dari Bengkulu. Mereka teman- teman kantornya ayah saya.
Tapi, umur mereka sekitar 20an tahun. Jadi lebih saya anggap seperti kakak saya sendiri.
Yaa sebagai gantinya,mereka sering mengajak saya jalan main,entah itu ke Candi lah,ke Anjungan,sampe yang ngabisin energi dan urat saraf putus nih,adalah ke karaoke Inul Vista. Jujur nih ya,baru kali ini saya nyanyi (cenderung ke teriak) bisa se-plong itu. Dari rasa bangga yang saya rasakan adalah,menghabiskan suara saya sampai rasanya susah untuk bicara. Tapi memang,saya akui mereka berhasil mengusir rasa jenuh saya selama di rumah dengan agenda yang sama seperti yang sudah saya sebutkan di post sebelumnya.
Tapi, umur mereka sekitar 20an tahun. Jadi lebih saya anggap seperti kakak saya sendiri.
Yaa sebagai gantinya,mereka sering mengajak saya jalan main,entah itu ke Candi lah,ke Anjungan,sampe yang ngabisin energi dan urat saraf putus nih,adalah ke karaoke Inul Vista. Jujur nih ya,baru kali ini saya nyanyi (cenderung ke teriak) bisa se-plong itu. Dari rasa bangga yang saya rasakan adalah,menghabiskan suara saya sampai rasanya susah untuk bicara. Tapi memang,saya akui mereka berhasil mengusir rasa jenuh saya selama di rumah dengan agenda yang sama seperti yang sudah saya sebutkan di post sebelumnya.
Sebenarnya,saya enggan untuk pulang terlebih dahulu. Saya
masih betah untuk liburan disana walaupun saya sering sekali merepotkan orang
tua saya.
Gak banyak kegiatan yang saya lakukan selama saya di Jambi.
Paling mentok cuma jemur pakaian saja. Yang lebih asoy adalah memasak iga bakar
made in aby dong pastinya,plus mama saya yang selalu setia merebus iganya.
Kegiatan memasak iga bakar ini seolah menjadi kegiatan yang
lumayan rutin dilakukan. Selain rasanya yang hemmmmm,,yummy banget,bikinnya
juga gak rumit kok.. Sampai suatu ketika si mama punya ide untuk memasakkan
anak- anak dari Bengkulu ddengan sajian iga bakar ini. Dan suatu kebanggan dan
kepuasaan yaa makanan yang kita buatkan itu habis tanpa sisa! Ini dia yang
ditunggu chef pemula hahaha.
Kemaren,sekitar tanggal 9 Juli 2012, saya sempatkan untuk
membeli souvenir khas Jambi. Gak banyak sih yang saya beli. Hanya ada kaos 3
dan 4 gantungan kunci. Hemm,bajunya yang saya beli bisa dikatain..bagus dan
bahannya enak dipakai. Semiliiiiir....
Pagi tadi ini jam 11 pagi,allright! Saya lepas landas dari
Bandara Sultan Thaha menuju ke Jakarta untuk transit dulu sebelum ke Jogja.
Pesawatnya sih cepet,satu jam sudah sampai Jakarta. Tapi yang paling memakan
banyak waktu adalah,menunggu transit dari Jakarta ke Jogja. Yeaah, diitung
itung hampir 2 jam saya menunggu. But that isn’t problem for me. Justru kalo
waktu yang terlalu cepat,semain cepat pula rasanya saya meninggalkan Jambi.
Saya terkesan dengan Jambi yang sekarang. Dengan pertumbuhan
yang pesat dan ramai sekalii,saya
berkhayal bahwa seandainya sebelas tahun yang lalu kota Jambi seperti
ini,mungkin bisa dikatakan saya sekarang bukan anak Jambi. Karena rumah saya
lumayan jauh dari kota Jambi. sampai sekarang yang masih mengganjal di hati saya
adalah,pencarian teman teman TK saya. Karena rasa sayang dan penasaran saya
kepada mereka,saya akan coba mencarinya hingga saat ini.. Thanks to Jambi yang sudah memberikan kesempatan selama 2 tahun yang berarti waktu itu..
(Beberapa foto narciz)
(Beberapa foto narciz)
-->baju biru (mbak mawar sama mas luhur) alibi jadi anak desa
-->foto bareng mbak dewi arca :D
-->si bulug jembatan boongan
-->si emak bergaya sama mbak erma,beeuh gak nahaaan gayanya
-->si emak foto sama tuyul ganteng
--> borong duren Jambi,yahuuut cooy
-->birahi mas fahmi gak bisa ditahan waktu liat duren (sumpeh ngakak saya liat mas fahmi)
-->temen temen Bengkulu foto di kantor perbendaharaan Jambi
-->ini nih,aktifitas yang paling penting,karaoke!

