Semua cerita di post kali ini berawal dari sebuah acara mas
ipar saya, Mas Ilul yaitu Bang Alex. Bang Alex menikah di Kampung Simangambat, Sumatera
Utara. Mba Uut, menjadi orang yang wajib dateng karena masing- masing pasangan
dari saudara kandung yang beracara harus dateng. Pada awalnya, Bapak Mama saya
yang mau ikut menemani Mba Uut.
Tapi, karena bulan April Bapak saya pensiun,
jadi beliau masih berkutat dengan kegiatan pindahannya dari Surabaya menuju ke
Jogja.
Perasaan saya kali ini jujur saja sangat senang, tapi sebisa
mungkin saya menutupi kegembiraan saya agar engga terlalu terbawa suasana. Senang,
karena semenjak Gani pulang dari Malang, ada yang beda dari sikapnya. Dari situ,
saya tentunya ada kesempatan buat saling jujur. Saling terbuka untuk jalannya
hubungan kami.
.......................................
Perjalanan dari
Padangsidempuan sampai ke Medan kota sebenarnya memakan waktu 10 jam lebih
perjalanan. Karena kita ngejar waktu, makanya Saya, Lely, Mba Uut dan Mas Ilul
naik pesawat kecil (lagi). Mungkin, kalau saya saja sendirian bakal memilih
naik perjalanan darat. Ngga tau kenapa ya, perjalanan darat selalu saya anggap
perjalanan yang paling santai, dengan catatan kondisi badan dalam keadaan
prima. Kalau keadaan badan kalian lagi loyo mending ngerogoh kocek lebih dalam
lagi.
Ngga sampai satu jam
pesawat kecil kami udah landing di Bandar Udara Internasional Kualanamu. Sampai
di sini, Saya berpisah sama Mba Uut yang ke Surabaya duluan dan Mas Ilul yang
ke Jakarta. Jadi, tinggal saya dan Lely yang ngelanjutin perjalanan ke Medan
Kota. Alternatifnya naik kereta perorang
entah 80k-100k durasi perjalanan 1 jam tanpa macet, full AC. Atau naik Damri
seharga 20k perorang dengan konsekwensi
pasti bakal kena macetnya, AC yang kadangkala kesembur terik matahari. Karena
saya punya alasan untuk berhemat saat di Medan nanti, jadi saya memutuskan
untuk naik Damri. Itung- itung latihan buat backpacker ke luar negeri nanti
sama istri ehee.
Satu
setengah jam perjalanan yang saya lewati dari Kualanamu menuju ke kota Medan. Kesan
yang saya rasakan di kota ini : wild town. Karena yang saya rasakan di kota ini
adalah terik meskipun tidak seterik Surabaya, dominasi bentor yang hiruk pikuk,
logat omongan yang khas Sumatera Utara (logat Medan yang kalian dengar di
sinetron tidak saya jumpai di sini,karena di TV terlalu dramatisasi). Saya memutuskan
untuk berpisah dengan Lely,karena ternyata penginapan saya dekat dengan
terminal pemberhentian Damri, yaitu di Carefour Plaza Medan.
Gojek adalah satu-
satunya pilihan saya untuk menghemat transportasi selama saya di Medan.
Termasuk saat mencari alamat penginapan saya yang letaknya berada di Jalan Sei
Bahkapuran nomor 16A. Tidak sampai 5 menit, bang gojek datang dan meyapa dengan
ramah.
“dengan Bang Aby ya? “
“iya Bang benar,saya mau
ke sei bahkapuran bang. Ada penginapan namanya Lewi House”
“oke bang nanti kita
carinya lah ya”
Kami sempat salah
alamat,karena titik point di aplikasi gojek memang salah dan ternyata ngga
hanya saya saja yang salah alamat. Rata- rata pelanggannya si abang gojek ini
juga mau ke Lewi Juga dan ternyata diantarkannya juga ke alamat yang salah.
Setelah bertanya- tanya, kami menemukan penginapan yang saya maksud. Ternyata
posisinya hanya berseberangan dengan jalan yang salah tadi. Cuma terpisahkan
antara beberapa blok.
LEWI HOUSE.. bangunan
putih bergaya semi Eropa. Bangunan yang nantinya akan menemani saya dalam
beberpaa hari kedepan. sebenarnya saya tidak tinggal di Lewi House,tapi saya
tinggal di kamar AiryRooms yang ada di dalam Lewi House. Sekitar jam 3 sore,
saya check in di resepsionis, kemudian diantarkan saya ke kamar yang saya
booking saat di Kampung Simangambat kemarin. Jujur nih yah, untuk harga 150ribu
perhari dengan kamar yang bersih,rapi banget, tv flat,shower,AC, snack,aQua
ditambah lagi kita bisa request bersihin kamar seeetiap waktu. Kenapa saya
memilih AiryRooms Lewi House ? ada beberapa alasan mengapa saya ambil di posisi
ini.
1. karena dekat dengan
terminal pemberhentian Damri. Paling ngga sekitar 5 kilometer.
2.
karena dekat dengan keramaian kota. Lokasinya emang ngga di tengah- tengah
kota,Cuma kalau – kalau aja mau pesen gofood ngga kejauhan.
3. dekat dengan kampus
USU,dekat pulak dengan kampus Gani.
Tapi yang saya sayangkan
adalah, penginapan saya terhitung jauh dari rumah Gani. Penginapan saya adalah
di daerah Medan Baru,sedangkan rumah Gani di Meralan. Waktu saya ngecek di
Gojek sekitar 13km. Bukan masalah uang gojeknya,Cuma ini jauh men. Bagaimana
seorang Gani yang rumahnya 13km naik motor ke kampus USU setiap hari? Apa yang
Gani rasakan ketika ada kelas pagi? Apa yang Gani lakukan saat banyak kegiatan
dan mengharuskan pulang malam? Inilah sifat yang dari dulu saya cintai dari
Gani, gigih dan giat. Rencana awal saya hari Minggu itu pula saya mau kasih
kejutan. Rencananya Minggu sore itu juga saya pesan bouquet mawar, ke kampus
Gani dan tau- tau nongol ke depan ruang lab. Tapi ternyata penjual bouquet
engga bisa order pada hari itu juga denga waktu setengah hari,dan ngga mungkin
juga saya ke kampus Gani dengan membawa bouquet besar. Mungkin ini bakal jadi
awkward momment buat temen- temen karena setingnya di kampus. Jadii, rencana
saya ganti hari Senin sehabis isya. Dengan rencana membawa bouquet.
..............................................................
..............................................................
Sip, sebelumnya saya
sudah kepo seputar jarak dari penginapan saya ke rumah Gani. Karena
penelitiannya Gani pasti kelarnya sore dan Gani pasti sampai rumahnya sekitar
jam 7 malem,jadi untuk meminimalisir ngaret,saya berangkat dari penginapan jam
3.00 sore. Kebetulan hari itu agak mendung dan sedikit gerimis. Jaket jeans
biru navy, baju daleman item, celana jeans biru keabu-abuan dan sepatu sneakers
New Balance warna biru abu- abu terlihat ganteng sesaat saya kenakan. Engga
begitu lama untuk sih untuk nunggu gojek orderan saya. Lokasi yang saya tuju
sore itu adalah Suzuya Plaza Medan. Kenapa harus ke Suzuya ? saya ingat persis
waktu Gani ke Malang bersamaan dengan kawan- kawannya, salah satu kawannya
pernah bilang ke Gani kalau ada mall baru di sekitaran rumah Gani. Entah Sibuya
atau Shizuka wkwkwk. Tapi yang jelas mall itu dekat dengan rumah Gani, searah.
Jadi pasti kalau mau ke rumah Gani ngelewati Suzuya. Hari pertama saya di Medan
pun dimulai. Sekitar 20 menit lebih saya diantar bang Gojek. Aroma- aroma
nyasar pun terjadi. Ada satu jalan utama (entah saya lupa nama jalannya)
dilewati 3x sama si abang. Dan kacaunya,si abang ngga bisa baca map. Waktu saya
cerita- cerita ternyata si abang baru 3 hari narik Gojek. Saya sempat
menawarkan si abang untuk membawakan hpnya dan membacakan mapnya,tapi untungnya
aja si abang udah keburu paham jalan yang biasanya sering dilewati. Dua puluh
menit sampai juga saya di Suzuya. Mall ini ngga terlihat besar. Hampir terlihat
seperti pusat perbelanjaan tapi ada bioskopnya. Bioskop alternatif ketika
bioskop- bioskop di Kota Medan pada sold out. Saya sempatkan mampir di
swalayannya sekedar membeli wafer, rokok GG Mild Menthol, dan susu ultra
caramel. Waktu yang menunjukkan jam 16.00 membuat saya berpikir untuk mencari
tempat menunggu. Saya putuskan buat duduk di cafe ice cream. Tempatnya masih di
dalam Suzuya juga. Pikiran saya pada saat itu masih kacau karena apa yang
nantinya akan saya katakan ke orang rumah Gani? Alasan apa yang saya pakai
kalau saya bertemu dengan kakaknya? Line saya pun ngga pernah dibaca selama
beberapa hari. Kebetulan pagi hari itu saya sempat menanyakan ke Gani.
“Pagi sayang. Hari ini ngelab yah? Pulangnya jam
berapa?”.
Saya tidak berani untuk menanyakan terlalu mendetail
karena khawatir kalau pertanyaan saya menimbulkan kecurigaan Gani. Gagal pulak
nanti surpraisenya. Jadi selama saya di cafe,saya pun masih menunggu balasannya
Gani. Saya bingung. Saya menghubungi Lintang untuk menuntun saya agar tidak
terlihat grogi pada saat di rumahnya nanti. Saya ceritakan dari awal sampai
detik itu saya di posisi . Espresso kecil sebenarnya kurang membantu saya untuk
bisa tenang dalam posisi saat itu. saya hanya bisa terus berdoa agar bisa
bertemu langsung dengan Gani. Wanita yang sudah tumbuh bersama saya sejak SMA
kelas 2. Wanita yang mempengaruhi kehidupan saya. Wanita yang telah merubah ritme
biologis saya selama di hampir 6 tahun, meskipun jarak yang membatasi ruang gerak
kami.
Waktu sudah menunjukkan jam 6 sore yang menandakan
saya harus segera bergegas menuju rumah Gani. What? Kenapa harus secepat ini
waktunya ? Karena saya engga mau
kehilangan momen, jadi saya harus segera mesen gojek.
Unpredictable,
abang gojek kali ini adalah abang- abang yang pertama kali jemput saya
dari terminal ke penginapan. Si abang sampai bilang kalo kami udah bertemu yang
kedua kalinya, kami seperti saudara di tanah mereka. Waktu saya tanya, kok bisa
ketemu di Sizuya Mall ya bang ? padahal kan dari Sizuya Mall ke Medan Plaza
jauh. Rupanya nih abang gojek rumah di daerah Marelan. Dari dalam hati saya,
alhamdulillah. Ada jalan untuk cari- cari rumah Gani. Jujur, ide nekat ini
sudah saya rencanakan jauh- jauh hari, jadi saya sebenarnya engga terlalu
khawatir untuk pergi sendiri menemui Gani, hanya saja saya sedikit khawatir
kalau respon yang diberikan Gani pada saat saya datang nanti adalah respon yang
buruk. Mengingat akhir- akhir ini saya dan Gani punya sedikit masalah, dimana
kami engga berkomunikasi selama berhari- hari, tanpa saya tau alasannya kenapa
dan sesuatu telah disembunyikan Gani, entah apa itu masalahnya.
Perjalanan dari Sizuya Mall menuju ke rumah Gani kira-
kira 15 menit, lama karena saya harus muter tempat yang sama sekali belum
pernah saya sambangi. Setelah saya tanya kesana kemari, saya dikasih arahan
sama ibu- ibu yang rumahnya sesuai sama alamat yang selalu saya kirimkan paket
ke Gani. Rupanya gang keluarga ada 2, Gang Keluarga Barat dan Selatan. Gang
Keluarganya Gani adalah yang Barat. Sedangkan saya nyasar di Gang Keluarga
Selatan. Langsung saja dengan gerak cepat kami meluncur ke Gang Keluarga Barat.
Sempat si abang gojek ini nanya ke orang- orang lewat, diarahin ke Gang
Keluarga yang saya maksud. Jalan sekitar 150 meter, disitu saya dan abang gojek
nemuin satu gang, WTH ketemu ! Saya ingat- ingat rumahnya Gani.
Sebenarnya engga terlalu detail, karena waktu itu Gani masih sering pap selfie di depan rumahnya. Yang saya ingat, rumah warna hijau, ada kanopi, motor Beat lama warna hitam. Engga nyampe deretan 5 rumah, rumah yang dengan ciri-ciri yang saya sebutkan ditemuka dengan kondisi yang sama seperti foto yang pernah Gani kirim. Disitu saya langsung gagap dan memerintahkan abang gojek buat matiin mesinnya.
Sebenarnya engga terlalu detail, karena waktu itu Gani masih sering pap selfie di depan rumahnya. Yang saya ingat, rumah warna hijau, ada kanopi, motor Beat lama warna hitam. Engga nyampe deretan 5 rumah, rumah yang dengan ciri-ciri yang saya sebutkan ditemuka dengan kondisi yang sama seperti foto yang pernah Gani kirim. Disitu saya langsung gagap dan memerintahkan abang gojek buat matiin mesinnya.
Saya benar- benar ngga punya kata- kata untuk sekedar
ngobrol ringan nantinya kalau sudah tatap mata lagi, setelah terakhir Gani ke
Malang. Dengan mengumpulkan keberanian, saya ketuk rumah Gani. Ketukkan ke 5
dengan salam 3 kali, pintu dibuka. Dan.. yang buka kakaknya Gani.
Abi: “Assalamualaikum kak, Ganinya ada lah kak ?”
(dengan logat Medan sebisanya saya)
Kakak : “ Walaikumsalam, Ganinya lagi keluar kontrol
gigi. Ini siapa ya ?”
Abi : “Saya Reyhan kak, kawan SMAnya Gani. Kebetulan
saya baru pulang dari Surabaya kuliah di sana. “
Kakak: Oh ya, Gani udah dari tadi perginya sama mamak.
Udah bikin janji lah klen ?”
Abi: Belum kak, saya tadi susah kali hubungin Gani
jadinya belum bikin janji. Saya tunggu aja ndak apa- apa kok kak.”
Kakak: “udah
daritadi kok mungkin sebentar lagi pulang. Duduk aja dulu lah ya. Dari SMA mana
dek ?” (entah si kakak lupa dengan kata- kata saya tadi atau hanya memastika
kalo saya ini bohong,sampai detik ini pun saya belum tau. Asli saya deg-degan
sewaktu ditanyain, takut salah jawaban).
Gani : “SMA 16 Medan kak. Kami sempat satu sekolah
tapi saya lanjut kuliahnya di Surabaya kak. Ini saya sudah luluspun makanya
pulang mainlah saya ke Medan.”
Kakak: “rumahnya di mana rupanya dek?”
Abi : “di daerah Sei Bahkapuran kak (ini tempat
penginapan saya,untungnya alamatnya jelas jadi saya punya alasan ngejawab).
Kakak: “Oh gitu, lho kemari naik apa rupanya?”
Abi: “naik gojek kak, tadi langsung dari Plaza Medan
menuju kemari”
Kakak: “yasudahlah ya duduk dulu, aduh camana ini Gani
pun belum pulang juga rupanya. Kakak telponnya lah ya”
Abi : “ndak usah kak, mungkin lagi di jalan. Ndak apa-
apa saya tunggu di sini.”
Belum lama
masuk, si kakak datang dengan membawa air putih dan sekaleng wafer.
Bukannya bosan menunggu, saya masih bingung mau
ngomong apa nantinya kalau Gani datang. Saya telpon Lintang. Saya ceritakan
kondisi dari awal saya tiba di Medan sampai detik itu di rumah Gani. Pada
intinya, saya harus rileks. Bagaimanapun, Gani adalah pacar saya. Anggaplah
obrolan sehari- hari yang sama seperti kemarin- kemarin kami obrolin.
Sepuluh menit telepon Lintang, dari kejauhan muncullah
motor Beat hitam. Gani datang dengan celana training panjang, sweater abu- abu,
topi abu- abu, dan memakai masker yang sedang memboncengi mamak.
Telepon saya tutup, dan saya hanya tersenyum
memandangi matanya. Pandangan teralihkan oleh mamak yang begitu anggun dengan
pakaian busana muslimnya. Badannya tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar sebahu
saya. Saya menyapa dan tersenyum ke mamak dari kejauhan. Saya yang masih duduk
di teras depan, kemudian beranjak berdiri untuk salim ke mamak. Hanya obrolan
ringan saja sebenarnya, tapi rasanya hal itu menjadi hangat. Benar- benar
hangat dari aura pembawaannya mamak. Di sela- sela obrolan bareng mamak, Gani
datang dan menghampiri saya. Mamakpun pamit untuk beranjak ke dalam rumah.
Saya gugup. Saya bingung conversation pembuka apa yang
ingin saya sampaikan.
............................................................
............................................................
Gani : (dengan raut muka nahan senyum) “kok engga bilang-
bilang?”
Aby: “kalo bilang- bilang buka surpraise dong namanya J “
Gani : “dari kapan di Medan?”
Aby : “sebenarnya udah seminggu yang lalu di
Simangambat, di Medan baru hari Minggu kemarin”
Gani: “hmm kok abi engga bilang sih”
Aby: “ya mau bilang gimana, Gani aja dihubungi engga
ada respon juga”
Gani : “......, abi nginapnya dimana ini ?”
Aby : “ di daerah Sei Bahkapuran Gani, di deketnya
Plaza Medan Fair”
Gani : “Abi sendirian la apa sama keluarga?”
Aby : “sendirian, keluarga udah pada balik sendiri-
sendiri ke Jakarta, mba uut balik ke Surabaya”
Ada dua menit kami diam, dan saling bertatapan. Raut
wajah Gani jelas menunjukkan antara heran, seneng, tapi susah untuk
disembunyikan. All i knew she was an
introvert.
Gani: “Abi udah makan malam belum ?”
Aby : “sore tadi udah mampir di Suzuya, kalo malam ya
belum”
Gani : “mau makan di rumah atau di luar?”
Aby: “abi sih maunya makan di rumah aja pakai
masakkannya mamak, Cuma kalo Gani mau ngajak abi makan di luar ya ayok aja”
Gani : “makan diluar aja ya sekalian nganterin abi
pulang penginapan”
Aby : “loh penginapannya abi jauh loh dari rumah Gani,
nanti Gani pulangnya gimana ?
Gani: “engga apa- apa udah biasa pulang malam sayang,
ini juga masih jam setengah delapan kok. Sekalian ngajak jalan kota Medan”
Aby: “yaudah abi pamit dulu sama mamak ya, Gani siap-
siap dulu aja”
Setelah saya pamit mamak, kami berangkat cari makan ke
daerah Medan kota. Sebenarnya engga banyak perbedaan yang saya rasakan antara
Medan dan Surabaya. Hanya saja, Medan lebih sempit daripada Surabaya ditambah
pengguna jalan lebih ugal- ugalan. Bayangkan saja, dari rumah Gani ke Medan
kota (jantung kota sekalipun berjarak 12 kilometer), kami engga pake helm.
Nice, kan?
Di sepanjang jalan, saya diceritakan beberapa sejarah
kehidupan Gani selama hidup di Medan. Mulai dari rumahnya yang lama sewaktu
SMP, SMPnya yang terletak sekitar 5 kilometer dari rumah Gani yang baru ini,
sampai saya juga baru paham rupanya almarhum ayah Gani meninggal di usia Gani
SMP. Selama perjalanan, sebenarnya saya merasakan banyak sisi terbuka Gani yang
diceritakan ke saya. Termasuk alasan mengapa setelah kepergian Gani dari
Malang, jarang sekali merespon Line saya. Bahkan sampai berminggu, tanpa alasan
yang jelas, kabar yang valid. Sampai suatu momen, Gani angkat bicara saat kami
masih berada di motor sebelum sampai tempat tujuan.
Gani : “sayang, abi tau engga kenapa akhir- akhir ini
Gani diem ke abi? Gani engga respon chatnya abi, telponnya abi?”
Aby: “ya engga tau sayang, Gani kan engga pernah
cerita ke abi”
Gani: “sebenarnya sehari setelah abi yudisium, Gani
lagi riset di lab. Gani tinggal ke kamar mandi agak lama. Rupanya hp Gani
ketinggalan di lab,dengan posisi display layarnya egga lock. Disitu kayaknya
abi ngeLine Gani. Kawan satu gengnya Gani , namanya Olva sama Yayan engga
sengaja ngebaca pesan abi. Terus dari notifnya yang di layar, mereka baca pesan
Linenya abi. Dari kamar mandi, Gani diinterogasi sama mereka berdua:
Olva Yayan: “Bong, kau kenal sama Abbyyu? Itu siapanya
kau? “
Gani: “oh itu kawan aku SMP”
Olva Yayan: “kawan kau tapi kok sering tanya “udah
makan sayang?lagi apa sayang? “Pake emot cium kayak gini maksudnya kekmana
Bong?”
Gani: “ya biasa aja lah kawan iseng- iseng chat
kekgitu. Kawan lama juga kok”
Olva Yayan : “kami pun punya kawan lama yang akrab
kekgitu juga Bong. Tapi kami engga pernah chat sambil panggil sayang, pake
kesan yang romatis kekgitu Bong. Kau kenapa Bong ?”
Gani : “kami berkawan biasa aja. Engga ada gimana-
gimana”
Olva Yayan: “kami pun juga pernah liat foto kau di
instagram, si abbyyu ini komen di foto kau pake kata- kata “ma girl”. Itu
kekmana sih Bong? Kalo emang ko ada kecenderungan berpacaran sama abbyyu, aku
saranin ngga usahlah kau lanjutkan. Kami ini kawan kau Bong. Kemarin kau ke
Malang pun ngapain aja sama abbyyu itu. Kami khawatir Bong sama kau”
Dari pengakuan Gani yang seperti itu, Gani merasa
mentalnya down. Karena Gani adalah satu- satunya orang yang tidak pernah
bercerita masalah hidupnya ke siapapun. Bahkan untuk saya pun, Gani masih
memasang tembok pembatas agar cerita hidupnya Gani sendiri yang mengkonsumsi.
Gani : “makanya Gani kan akhir- akhir ini engga pernah
like lagi kan foto instagram sama facebooknya Abi. Karena Gani khawatir mereka
liat aktivitas Gani di sosmed”
Aby: “sayang. Maafin abi ya. Mungkin gara- gara abi
yang teledor, engga liat- liat waktu pas chat.
Abi engga seharusnya show off juga komen di foto ignya sayang, dan Gani pun juga respon di komen fotonya Gani. Maafin abi ya. Mulai sekarang, masalah Gani adalah masalah Abi juga. Gani jangan pernah merasa sendiri, jangan merasa down lagi. Sayang cerita lah ke abi. Abi bisa jadi cowonya Gani, jadi kakaknya Gani, jadi sahabatnya Gani bahkan abi berusaha bisa menjadi ayah dari Gani. Jadi, jangan pernah lagi memasang tembok komunikasi buat kita. Waktu Gani di Malang, abi juga pernah bilang hal yang sama kan ke Gani?"
Abi engga seharusnya show off juga komen di foto ignya sayang, dan Gani pun juga respon di komen fotonya Gani. Maafin abi ya. Mulai sekarang, masalah Gani adalah masalah Abi juga. Gani jangan pernah merasa sendiri, jangan merasa down lagi. Sayang cerita lah ke abi. Abi bisa jadi cowonya Gani, jadi kakaknya Gani, jadi sahabatnya Gani bahkan abi berusaha bisa menjadi ayah dari Gani. Jadi, jangan pernah lagi memasang tembok komunikasi buat kita. Waktu Gani di Malang, abi juga pernah bilang hal yang sama kan ke Gani?"
Gani: “iya sayang. Maafin Gani juga. Gani yang
sebenarnya teledor engga pasang password di hp. Ninggalin hp dalam posisi
display layar kebuka. Abi jangan ninggalin Gani ya dengan kondisi masalah yang
seperti ini (dengan kondisi tangan saya digenggam sembari saya meneruskan
handle setir motor)
Abi : “iya sayang, abi janji..”
Sebenarnya dalam posisi seperti itu, sayalah yang
benar- benar takut kehilangan Gani. Benar- benar takut. Karena semenjak
kejadian Erika, saya sudah move on
total. Saya tidak berpikiran untuk mencari seseorang yang baru untuk menempuh
hidup lagi, walaupun sekedar untuk menemani hari- hari saya di Malang. Saya
mengerti, LDR hanya memakan waktu. Sebagian orang berkata LDR berakhir dengan
tragis. Disini saya hanya percaya kekuatan Tuhan untuk tidak menyerah dengan
kondisi dan tertipu oleh jarak. Tugas kita berusaha. Perkara dihargai atau
engga itu udah urusan yang di sana.
Pada satu poin dekat dengan alun- alun, kami berhenti
di wilayah kuliner Medan. Entah saya lupa nama tempatnya yang jelas banyak
sekali makanan khas Sumatera. Karena bingung memilih, saya pasrahkan saja ke
Gani. Pilihan tertuju kepada sate Padang. Di sana saya pesan satu porsi. Gani
pada kala itu selepas ganti bracket
behel engga mau pesan sate. Jadi Cuma lontong pakai bumbu sate Padang. Suasana
malam itu saya rasa begitu romantis. Ya meskipun alakadarnya, makan pinggiran
jalan, ditemani alunan pengamen yang suaranya entah itu titisan dari surga, dan
yang paling vital adalah, kamu. Kamu yang sedang duduk di depanku. Di kotamu.
Suatu janji yang pernah saya ucapkan ke Gani jika suatu saat Tuhan menghendaki
kami bertemu kembali, i’ll find you,
wherever you go.
#Now
playing: I’ll Find You- Kunto Aji
Saya pesan Lewi House sebenarnya sewaktu di
Simangambat kemarin. Yang saya lihat pertama kali dari hotel ini adalah dekat
dengan Medan Kota. Dibanding dengan beberapa hotel, hotel ini juga lebih gampang
dijangkau, jadi sewaktu- waktu Gani mau main ke penginapan jaraknya engga jauh-
jauh banget dari kampus. Saya sudah bilang sewaktu Gani ngantar saya ke hotel
setelah makan malam pertama kali kalau mampir saja kalau ada waktu luang.
Utamakan risetnya dulu dan skripsinya juga. Masalah saya mau main kemana- mana
sebenarnya gampang saja. Medan pun sudah banyak transportasi online. Tapi yang
saya banggakan dari Gani adalah seberapapun sibuknya dia pada saat itu, Gani
tetap meluangkan waktunya meskipun hanya sekedar mampir ngantar sarapan.
Setiap paginya selalu Gani bertanya sudah sarapan atau
belum. Kalau belum, Gani pasti berangkat dari rumah bawakan nasi gurih, lengkap
dengan lauk ayam kari. Pagi yang indah ketika saya bangun pagi, sarapan berdua,
tepat di depan saya ada Gani. Gani yang saat itu lebih sering menyulang saya. Menyulang dalam bahasa Medan berarti menyuapin. Hampir setiap pagi selama 7
hari saya di sana, aktivitas ini yang kami lakukan.
Di sela- sela kami ngobrol sore hari, entah kenapa
saya punya pikiran untuk beli cincin. Ya meskipun masih sangat jauh dari kata
menikah ataupun tunangan, tapi pada saat itu saya berpikir untuk tanda pengikat
saja.
Abi : “sayang ayok beli cincin. Ya engga usah yang
maha- mahal engga apa- apa sekedar untuk pengikat aja”
Gani : “...... . cincin buat suami istri kita masing-
masing sayang?hehe”
Abi : (saya
Cuma diam saja, bingung nanggepnya gimana. Tapi asli, hati saya ngilu dengernya
meskipun tujuannya bercanda. Saya overthink, yang jatuhnya jadi kearah melamun. Saking kelamaannya saya melamun, sampai saya ditegur
Gani).
Gani : “sayang maafin Gani ya. Gani tadi bercanda kok.
Iya- iya nanti kita beli cincin yah. Sayang kerja dulu, nabung ngumpulin uang
baru kita beli cincin yah. Udah ya jangan sedih lagi”.
Seketika itu juga Gani menyium kening saya dan memeluk
saya erat- erat. Memang benar ternyata pelukan yang diberikan dari seseorang
yang kita sayangi adaah obat ketika sedang bersedih.
Di malam harinya, Gani menghampiri saya ke penginapan. Rencana ini sudah dischedule dari siang. Sekedar ingin jalan- jalan malam aja sebenernya.
Tujuan pertama kita adalah makan durian. Hahaha. Kapan lagi ya kan bisa makan durian medsn di kota Medan. Referensi yang saya dapat cuma durian Ucok.
Fun fact, saya baru sadar kalau ada orang asli Medan engga suka
durian. Terbukti banget waktu saya ngajak Gani makan Durian Ucok. Dia suka
aroma durian, tapi engga suka kalo makan daging buahnya. Saya dikasih tau kalau
Durian Ucok mahal Cuma menang brand doang. Ada lagi yang lebih murah dari Durian
Ucok. Namanya Durian Palawi. Bandingannya satu kotak tupperware kira- kira memuat
satu buah durian harganya Rp 50.000 di Ucok, dengan harga Rp 45.000 kita bisa dapat
satu kotak tupperware durian. Sebenarnya saya mau beli dua buah durian hahaha.
Niatnya sih mau nyuap Gani tapi percuma aja. Jadinya yaa dia Cuma nemenin saya
makan durian, tanpa ngikut makan. Poking pinggangnya aja engga mau, apalagi saya suapin satu biji durian.
Perjalanan kuliner selanjutnya berhenti di salah satu rumah makan mie Aceh. Saya lupa nama rumah makannya apa, tapi yang jelas rumah makan ini alternatif dari Mie Aceh Titi Bobrok Medan. Awalnya sih saya minta ajak makan disana, tapi Gani merekomendasikan alternatif lain karena cita rasa Titi Bobrok yang sekarang tidak seperti sebelumnya. Yaa sudah, saya ngikut aja.
Lagi lagi Gani enggak makan banyak, saya yang kelaperannya setengah hidup, bisa pesen Mie Aceh kuah dan iga bakar. Gani, cuma pesen nasi dengan sup buntut. Cita rasa Medannya dimana coba itu bestie?
Sambil menyantap kudapan makan besar, kami lebih banyak membicarakan aktivitas selama di kota masing- masing. Kemudian perbincangan dilanjutkan dengan obrolan wisata ngebolang besok harinya.
Sebelum saya ke Medan, saya liat timeline instagram,
Gani upload foto di salah satu pegunungan Berastagi. Pada awalnya dituliskan
lokasinya di Ranupanee. Kemudian saya DM Gani, rupanya foto itu di daerah
Berastagi.
Nah pada awalnya saya mau ngajak Gani ke sana. Ya
sebatas iseng- iseng aja nanya tempatnya di mana yang kemarin. Tapi setelah
tau, rupanya jauh banget. Itu harus mendaki pegunungan memakan waktu berjam-
jam. Belum lagi kalau camping. Sedangkan Gani sendiri seseorang susah untuk
nginap di luar rumah. Bukannya engga mau, tapi untuk minta izin mamak benar-
benar susah. Karena siapapun yang ada hubungannya dalam acara tersebut harus
minta izin langsung ke mamak. Pastinya nomor kita juga harus disimpan di
Handphone mamak. Karena saya juga engga mau ambil resiko, maka saya batalkan
saja untuk camping di Berastagi.
Sebagai gantinya, Gani mengajak saya jalan ke
Berastagi sepuasnya. Bayangin dong, dari rumah Marelan sampai ke Berastagi Gani
bawa motor apaan? Honda CBR 150cc cuk. Wanita, tinggi badan sekitar 168cm bawa
ginian. Saya pikir di awal dia bakal bawa Honda Beat yang biasanya dipake. Saya
dari awal juga udah bilang kalo mau jalan kemana- mana bawa motor Beatnya aja
biar saya bisa gantiin nyetir. Karena Gani entah kenapa engga mau digantiin
nyetir kalo jalan, walaupun Cuma ngajak jalan ke kota pun dia ngga mau. Alasan
utamanya, dia engga mau ngeliat saya capek, dia mau ngeliat saya enjoy selama
saya di Medan sebagai gantinya beberapa bulan yang lalu saat kami sedang ada masalah.
Termasuk sewaktu perjalanan ke Berastagi, pulang-pergi doi yang bawa. Saya
takjub, banget. Wanita seperti ini harus segera diambil mantu.
Perjalanan dari Medan Kota hingga sampai ke Berastagi
kira- kira 2 jam, tanpa macet. Tujuan pertama kami adalah Taman Alam Lumbini.
Sepanjang perjalanan, saya dan Gani disuguhkan perkebunan stroberi, sayur-
sayuran. Mungkin kalau di Malang hampir mirip dengan Cangar. Cuma kalau Cangar
lebih ektrim dan lebih dingin. Ada mungkin 11 derajad Celcius kalau di Cangar. Pertama
kali menginjakkan kaki di Taman Alam Lumbini adalah bangunan ini sebenarnya Vihara berwarna emas.
Hasil kerjasama diplomatik Indonesia dengan Thailand. Kami sampai di Vihara
hari Sabtu jam 12 siang. Tapi ramainya ngalah- ngalahin JatimPark. Di Medan,
saya selalu izin ke Gani, boleh atau engga ngerokok. Ya tau sendiri lah. Kalo
minta izin pasti engga boleh. Tapi kali ini saya benar- benar patuh sama
omongannya Gani. Sekalinya engga ya engga. Termasuk kalau kami lagi jalan ke
Taman Alam Lumbini. Saya berusaha menjadi apa yang Gani mau dan Gani harapkan.
Begitupun juga saya. Saya selalu berdoa kepada Tuhan agar Gani menjadi orang
yang saya harapkan.
Gani mengajak saya berkeliling Vihara. Awalnya dia mau
nunjukkin ada jembatan gantung yang epic banget. Tapi waktu sudah sampai
tempat, rupanya masih tahap renovasi. Kalau dilihat dari kejauhan memang bagus
jembatannya. Terpaksa kami putar balik dan hanya berfoto di depan Vihara.
Karena emang dasarnya lokasi ini ada di pegunungan, selalu merasa angin sepoi-
sepoi yang seger, meskipun suasana di sana terik. Sesekali Gani nawarin buat
fotoin saya. Saking banyaknya pengunjung, foto yang saya dapat banyak banget
bocor. Tapi bisalah diakalin dikit- dikit pake snapseed. Perjalanan kami di
Vihara ini diakhiri dengan wefie. Terlihat agak messy sih, tapi saya enjoy aja
sama hasilnya. Wajah kami memerah, hmmm mungkin karena kami termasuk bermuka
sawo mateng jadi kena matahari agak
lamaan jadi meraaah merona.
Perjalanan wisata kami yang terakhir adalah Bukit Kubu. Sebenarnya, Bukit Kubu ini bukan seperti namanya. Melainkan hamparan rumput yang sangat luas, berbukit- bukit (tidak terlalu pun tingginya), di tengah Bukit Kubu ada rumah adat suku Karo yang sebenarnya dipakai untuk tempat makan, toilet dan tempat singgah ketika pengunjung lelah bermain dan berlarian di bukit ini. Banyak juga pengunjung yang membawa tikar, makanan dan perlengkapan konsumsi lainnya dari rumah. Mereka duduk di bawah pepohonan yang memang sudah diseting oleh pengelola wisata hanya untuk sekedar ngopi, duduk sambil makan bekal yang sudah mereka bawa, nunggu anak- anak mereka bermain layang- layang. Sungguh pemandangan yang indah ditonton. Seakan saya membayangkan Gani sebagai istri saya sedang duduk beralaskan tikar, duduk ngopi sambil jagain anak kita, lari-larian main layangan. Angan yang sempurna..
Saya dan Gani memutuskan untuk duduk di kursi yang terbuat dari batu kali. Memesan 2 porsi indomie goreng, 1 teh hangat dan 1 kopi hitam panas. Karena disini udaranya sejuk dan segar, indomie dan kopi panas adalah paduan yang pas, disempurnakan dengan Gani yang duduk disamping saya.
Sepanjang menghabiskan waktu disana, saya terus menatap wajah Gani. Mats yang bulat, bulu mata yang tebal, alis tebal, rahang yang kota dan rambut yang terlihat hitam pekat seakan menghipnotis saya untuk tidak akan pernah meninggalkannya, walau setelah ini,dengan hitungan hari, saya akan kembali lagi ke kota asal saya.
Tidak ingin kehilangan momen sempurna ini, saya mengajak Gani ke tengah lapangan.
Abi : " Gani, yuk ke sana. Beli layangan yah. Nanti Gani yang megangin layangannya, Abi yang yang narik senarnya.
Gani : "Okeeh. Tapi awas ya kalo layangannya sampe gak terbang. Gani tali Abi pake senar layangan terus gelindingin ke bawah bukit"
Abi : " Iyaa beres. Tapi ada syaratnya. Kita lari cepet- cepetan ke tukang jual layangan di ujung sana. Yang kalah, beliin bakso tusuk itu. Deal gak sayang?"
Gani : " Hmm. Kuy. Nantangin dia".
Dan sudah terbukti saya lah pemenangnya. Hahaha. Makanya kalo pagi sering joging dong .
Kekalahan ini berakhir Gani yang belikan baksi tusuk. Gani makan baksonya, saya ngenyot tusuknya.
Entah kebetulan atau memang kondisinya, ketika Gani udah megangin layangan, tidak ada sedikitpun angin. Hftt..
Feeling saya bakal gak bisa terbang ini. Dan benar saja. Udah capek lari-larian buat narik senar biar bisa terbang, yang ada endingnya tubuh saya diiket senar layangan sama Gani, berujung digelindingin sampai bawah bukit. Apess apes.
Sudah hampir jam 5, kami beranjak dari Bukit Kubu menuju Medan. Dan lagi- lagi saya tidak diperbolehkan untuk menyetir motor. Dengan alasan sama, tapi dengan kondisi yang berbeda. Karena cuacanya mendung disertai dengan gerimis, kami pulang dengan memakai jas hujan. Tahu sendiri kan tidak mungkin jas hujan yang disimpan di jok motor sport akan ada 2?. Jadi, bagian baju dipakai Gani, bagian celana saya yang pakai.
Sepanjang perjalanan pulang, kami sempat mampir ke rumah makan Padang yang sederhana. Tidak lama dari makan, kami melanjutkan perjalanan kembali.
Sepanjang perjalan pulang, tangan saya yang bisa dibilang besar ini terus memeluk tubuh Gani yang kecil. Melingkar sampai tubuh saya merasakan hangatnya suhu tubuh Gani. Sesekali kepala saya senderkan ke punggung Gani dan bekata ke Gani
"You're the best combination between love and home. I love you so much, Gani"
...............................
Terhitung dari seminggu saya berada di Medan, dan
mungkin juga sudah terlalu lama di penginapan, saya putuskan untuk beli tiket
balik ke Surabaya tanggal 17 April 2017 jam 6 Malam. Sebenarnya juga banyak
alasan untuk cepat balik ke Surabaya. Salah satunya karena saya tidak mampu
untuk terlalu lama bersama Gani dengan jangka waktu yang bisa dibilang singkat, pada ujungnya kita akan pisah lagi, heheh.
Drama sih, tapi memang benar begitu.
Di hari- hari terakir saya di Medan banyak titipan
oleh- oleh dari kaluarga dan teman- teman saya. Kebetulan juga hari itu sedang
terik- teriknya matahari, jadi saya pesan oleh- olehnya lewat Go- Food. Dari
ketiga macam oleh- oleh, saya pakai 2 akun Go- Food, punya saya sendiri dan
punya Gani. Ngga main- main boy, 6 kilogram manisan jambu,2 kotak Napoleon dan 4
kotak Bolu Meranti. At least, ada jasa titipan juga buat saya hehe.
Di hari keberangkatan, Gani menyempatkan untuk
mengantarkan saya ke Medan Plaza. Bukan untuk belanja, melainkan drop in saya di DAMRI untuk melanjutkan
perjalanan ke Kualanamu.
Dari kejauhan,beberapa bus DAMRI terlihat sudah siaga mengantarkan penumpang ke Kualanamu.
Kebetulan saya dapat jadwal jam 3 sore. Saya mengintip jam tangan yang masih menunjukkan jam 14.05. Ini berarti saya punya waktu sekitar satu jam sebelum saya meninggalkan Gani.
Kami berbincang seperti biasa. Hal apa yang akan kita lakukan setelah ini. Yang jelas, saya masih sebagai job-seeker, dan Gani masih dengan melanjutkan skripsinya yang kini sudah memasuki bab 3.
Ketika obrolan hening, saya mendengar isak tangis dari raut muka Gani yang sedari obrolan hening tadi menunduk. Demi apapun, saya selama ini tidak pernah melihat Gani
nangis. Suara paraunya terdengar ingin mengucap sesuatu dengan tangannya mengepal meremas celana jeans-nya. Kaget? Iya, banget.
"Gani janji bakal nemuin Abi lagi. Abi janji ya enggak ninggalin Gani"
Tangisannya membuat saya merasa
dihargai dan disayang. Merasa tidak ada pria yang bisa menggantikan posisi saya disamping Gani.
Entah kapan lagi saya bisa bertemu dengan Gani
setelah kepergian saya ke Malang.
Saya menyibakkan rambutnya,dan menyisihkan
air matanya Gani yang pada awalnya tidak mau menampakkan wajah sedihnya. Saya
peluk dan mencium kening Gani berjanji untuk menemuinya kembali, saya benar-
benar berjanji pada saat itu. Saya peluk Gani dan saya bilang :
“Abi janji, abi ngga akan berpaling dari Gani. Abi
ngga mau kehilangan Gani lagi. Abi janji bakal nemuin Gani lagi. Gani harus kuat
ya seperti hari- hari dimana Abi belum ke Medan.”
Gani pun ngga bisa berkata apa- apa lagi. Namun saa
tetap meyakinkan Gani. Mungkin kesedihan Gani hanya berlangsung sebentar. Saya tau pastinya seperti apa Gani dengan seluruh sifatnya. Dia bukan orang yang bisa memikirkan dan memprioritaskan saya. Mungkin setelah saya kembali ke Malang, keadaan "biasa- biasa saja" akan mudah dilalui Gani.
Tapi untuk saya ?
Saya seorang melankolis yang sulit berpaling dari keadaan romantis dan klisè seperti
ini,bahkan untuk bertahun- tahun. Karena prioritas utama di kehidupan
saya adalah orang yang saya sayang, orang yang sangat berpengaruh dalam
perkembangan kehidupan saya. Keluarga, pekerjaan dan Gani.
Perjalanan saya di Medan pun, berakhir dengan sangat
bahagia. Bahagia pertama adalah karena bertemu dengan keluarga baru dengan
seluruh perbedaan adat dan budaya yang
sangat menarik dan tidak pernah saya temui selama hidup di Jawa. Keluarga baru
yang bisa menjadi sumber semangat saya selama di Medan. Meskipun haru menempuh
12 jam dari kota Medan ke desa Simangambat, tapi perjalanan inilah yang membuat
kami menemukan loyalitas baru. Bahagia yang ke dua adalah tentunya saya bisa
bertemu dengan Gani, pun di kampung halamannya. Dulu, dulu sekali sewaktu kami
masih SMA, awal kami bertemu melalui Facebook (season ini akan diceritakan di
lain waktu karena sangat paaaanjang jalannya) kami hanya berandai- andai bisa
bertemu, bertatap mata. Bertemu adalah hal yang impossible bagi kami berdua. Namun, segala ketidakpastian itu akan
menjadi sebuah doa yang menjadi kenyataan ketika kita terus berdoa dan meminta
kepada Tuhan. Entah kapan waktunya, entah dimana kita bertemu kembali, entah kapan
kita mempunyai waktu bersama- sama lagi, Tuhan yang menentukan itu semua.
Well
played.
Sayonara sayang. Salam untuk kakak dan mamak di rumah.
Abi sayang Gani..

