MEDAN, YOU WERE A HOME WHEN WE TIRED


          Semua cerita di post kali ini berawal dari sebuah acara mas ipar saya, Mas Ilul yaitu Bang Alex. Bang Alex menikah di Kampung Simangambat, Sumatera Utara. Mba Uut, menjadi orang yang wajib dateng karena masing- masing pasangan dari saudara kandung yang beracara harus dateng. Pada awalnya, Bapak Mama saya yang mau ikut menemani Mba Uut. 
Tapi, karena bulan April Bapak saya pensiun, jadi beliau masih berkutat dengan kegiatan pindahannya dari Surabaya menuju ke Jogja.

          Perasaan saya kali ini jujur saja sangat senang, tapi sebisa mungkin saya menutupi kegembiraan saya agar engga terlalu terbawa suasana. Senang, karena semenjak Gani pulang dari Malang, ada yang beda dari sikapnya. Dari situ, saya tentunya ada kesempatan buat saling jujur. Saling terbuka untuk jalannya hubungan kami. 

                                              .......................................


Now Playing: Jonas Blue Ft. RAYE- By Your Side

Perjalanan dari Padangsidempuan sampai ke Medan kota sebenarnya memakan waktu 10 jam lebih perjalanan. Karena kita ngejar waktu, makanya Saya, Lely, Mba Uut dan Mas Ilul naik pesawat kecil (lagi). Mungkin, kalau saya saja sendirian bakal memilih naik perjalanan darat. Ngga tau kenapa ya, perjalanan darat selalu saya anggap perjalanan yang paling santai, dengan catatan kondisi badan dalam keadaan prima. Kalau keadaan badan kalian lagi loyo mending ngerogoh kocek lebih dalam lagi.
Ngga sampai satu jam pesawat kecil kami udah landing di Bandar Udara Internasional Kualanamu. Sampai di sini, Saya berpisah sama Mba Uut yang ke Surabaya duluan dan Mas Ilul yang ke Jakarta. Jadi, tinggal saya dan Lely yang ngelanjutin perjalanan ke Medan Kota.  Alternatifnya naik kereta perorang entah 80k-100k durasi perjalanan 1 jam tanpa macet, full AC. Atau naik Damri seharga 20k perorang  dengan konsekwensi pasti bakal kena macetnya, AC yang kadangkala kesembur terik matahari. Karena saya punya alasan untuk berhemat saat di Medan nanti, jadi saya memutuskan untuk naik Damri. Itung- itung latihan buat backpacker ke luar negeri nanti sama istri ehee.
            Satu setengah jam perjalanan yang saya lewati dari Kualanamu menuju ke kota Medan. Kesan yang saya rasakan di kota ini : wild town. Karena yang saya rasakan di kota ini adalah terik meskipun tidak seterik Surabaya, dominasi bentor yang hiruk pikuk, logat omongan yang khas Sumatera Utara (logat Medan yang kalian dengar di sinetron tidak saya jumpai di sini,karena di TV terlalu dramatisasi). Saya memutuskan untuk berpisah dengan Lely,karena ternyata penginapan saya dekat dengan terminal pemberhentian Damri, yaitu di Carefour Plaza Medan.
Gojek adalah satu- satunya pilihan saya untuk menghemat transportasi selama saya di Medan. Termasuk saat mencari alamat penginapan saya yang letaknya berada di Jalan Sei Bahkapuran nomor 16A. Tidak sampai 5 menit, bang gojek datang dan meyapa dengan ramah.
“dengan Bang Aby ya? “
“iya Bang benar,saya mau ke sei bahkapuran bang. Ada penginapan namanya Lewi House”
“oke bang nanti kita carinya lah ya”
Kami sempat salah alamat,karena titik point di aplikasi gojek memang salah dan ternyata ngga hanya saya saja yang salah alamat. Rata- rata pelanggannya si abang gojek ini juga mau ke Lewi Juga dan ternyata diantarkannya juga ke alamat yang salah. Setelah bertanya- tanya, kami menemukan penginapan yang saya maksud. Ternyata posisinya hanya berseberangan dengan jalan yang salah tadi. Cuma terpisahkan antara beberapa blok.
LEWI HOUSE.. bangunan putih bergaya semi Eropa. Bangunan yang nantinya akan menemani saya dalam beberpaa hari kedepan. sebenarnya saya tidak tinggal di Lewi House,tapi saya tinggal di kamar AiryRooms yang ada di dalam Lewi House. Sekitar jam 3 sore, saya check in di resepsionis, kemudian diantarkan saya ke kamar yang saya booking saat di Kampung Simangambat kemarin. Jujur nih yah, untuk harga 150ribu perhari dengan kamar yang bersih,rapi banget, tv flat,shower,AC, snack,aQua ditambah lagi kita bisa request bersihin kamar seeetiap waktu. Kenapa saya memilih AiryRooms Lewi House ? ada beberapa alasan mengapa saya ambil di posisi ini.
1. karena dekat dengan terminal pemberhentian Damri. Paling ngga sekitar 5 kilometer.
2. karena dekat dengan keramaian kota. Lokasinya emang ngga di tengah- tengah kota,Cuma kalau – kalau aja mau pesen gofood ngga kejauhan.
3. dekat dengan kampus USU,dekat pulak dengan kampus Gani.

Tapi yang saya sayangkan adalah, penginapan saya terhitung jauh dari rumah Gani. Penginapan saya adalah di daerah Medan Baru,sedangkan rumah Gani di Meralan. Waktu saya ngecek di Gojek sekitar 13km. Bukan masalah uang gojeknya,Cuma ini jauh men. Bagaimana seorang Gani yang rumahnya 13km naik motor ke kampus USU setiap hari? Apa yang Gani rasakan ketika ada kelas pagi? Apa yang Gani lakukan saat banyak kegiatan dan mengharuskan pulang malam? Inilah sifat yang dari dulu saya cintai dari Gani, gigih dan giat. Rencana awal saya hari Minggu itu pula saya mau kasih kejutan. Rencananya Minggu sore itu juga saya pesan bouquet mawar, ke kampus Gani dan tau- tau nongol ke depan ruang lab. Tapi ternyata penjual bouquet engga bisa order pada hari itu juga denga waktu setengah hari,dan ngga mungkin juga saya ke kampus Gani dengan membawa bouquet besar. Mungkin ini bakal jadi awkward momment buat temen- temen karena setingnya di kampus. Jadii, rencana saya ganti hari Senin sehabis isya. Dengan rencana membawa bouquet.


                                         ..............................................................

Sip, sebelumnya saya sudah kepo seputar jarak dari penginapan saya ke rumah Gani. Karena penelitiannya Gani pasti kelarnya sore dan Gani pasti sampai rumahnya sekitar jam 7 malem,jadi untuk meminimalisir ngaret,saya berangkat dari penginapan jam 3.00 sore. Kebetulan hari itu agak mendung dan sedikit gerimis. Jaket jeans biru navy, baju daleman item, celana jeans biru keabu-abuan dan sepatu sneakers New Balance warna biru abu- abu terlihat ganteng sesaat saya kenakan. Engga begitu lama untuk sih untuk nunggu gojek orderan saya. Lokasi yang saya tuju sore itu adalah Suzuya Plaza Medan. Kenapa harus ke Suzuya ? saya ingat persis waktu Gani ke Malang bersamaan dengan kawan- kawannya, salah satu kawannya pernah bilang ke Gani kalau ada mall baru di sekitaran rumah Gani. Entah Sibuya atau Shizuka wkwkwk. Tapi yang jelas mall itu dekat dengan rumah Gani, searah. Jadi pasti kalau mau ke rumah Gani ngelewati Suzuya. Hari pertama saya di Medan pun dimulai. Sekitar 20 menit lebih saya diantar bang Gojek. Aroma- aroma nyasar pun terjadi. Ada satu jalan utama (entah saya lupa nama jalannya) dilewati 3x sama si abang. Dan kacaunya,si abang ngga bisa baca map. Waktu saya cerita- cerita ternyata si abang baru 3 hari narik Gojek. Saya sempat menawarkan si abang untuk membawakan hpnya dan membacakan mapnya,tapi untungnya aja si abang udah keburu paham jalan yang biasanya sering dilewati. Dua puluh menit sampai juga saya di Suzuya. Mall ini ngga terlihat besar. Hampir terlihat seperti pusat perbelanjaan tapi ada bioskopnya. Bioskop alternatif ketika bioskop- bioskop di Kota Medan pada sold out. Saya sempatkan mampir di swalayannya sekedar membeli wafer, rokok GG Mild Menthol, dan susu ultra caramel. Waktu yang menunjukkan jam 16.00 membuat saya berpikir untuk mencari tempat menunggu. Saya putuskan buat duduk di cafe ice cream. Tempatnya masih di dalam Suzuya juga.                   Pikiran saya pada saat itu masih kacau karena apa yang nantinya akan saya katakan ke orang rumah Gani? Alasan apa yang saya pakai kalau saya bertemu dengan kakaknya? Line saya pun ngga pernah dibaca selama beberapa hari. Kebetulan pagi hari itu saya sempat menanyakan ke Gani.
“Pagi sayang. Hari ini ngelab yah? Pulangnya jam berapa?”.
Saya tidak berani untuk menanyakan terlalu mendetail karena khawatir kalau pertanyaan saya menimbulkan kecurigaan Gani. Gagal pulak nanti surpraisenya. Jadi selama saya di cafe,saya pun masih menunggu balasannya Gani. Saya bingung. Saya menghubungi Lintang untuk menuntun saya agar tidak terlihat grogi pada saat di rumahnya nanti. Saya ceritakan dari awal sampai detik itu saya di posisi . Espresso kecil sebenarnya kurang membantu saya untuk bisa tenang dalam posisi saat itu. saya hanya bisa terus berdoa agar bisa bertemu langsung dengan Gani. Wanita yang sudah tumbuh bersama saya sejak SMA kelas 2. Wanita yang mempengaruhi kehidupan saya. Wanita yang telah merubah ritme biologis saya selama di hampir 6 tahun, meskipun jarak yang membatasi ruang gerak kami.
Waktu sudah menunjukkan jam 6 sore yang menandakan saya harus segera bergegas menuju rumah Gani. What? Kenapa harus secepat ini waktunya ?  Karena saya engga mau kehilangan momen, jadi saya harus segera mesen gojek.
Unpredictable,  abang gojek kali ini adalah abang- abang yang pertama kali jemput saya dari terminal ke penginapan. Si abang sampai bilang kalo kami udah bertemu yang kedua kalinya, kami seperti saudara di tanah mereka. Waktu saya tanya, kok bisa ketemu di Sizuya Mall ya bang ? padahal kan dari Sizuya Mall ke Medan Plaza jauh. Rupanya nih abang gojek rumah di daerah Marelan. Dari dalam hati saya, alhamdulillah. Ada jalan untuk cari- cari rumah Gani. Jujur, ide nekat ini sudah saya rencanakan jauh- jauh hari, jadi saya sebenarnya engga terlalu khawatir untuk pergi sendiri menemui Gani, hanya saja saya sedikit khawatir kalau respon yang diberikan Gani pada saat saya datang nanti adalah respon yang buruk. Mengingat akhir- akhir ini saya dan Gani punya sedikit masalah, dimana kami engga berkomunikasi selama berhari- hari, tanpa saya tau alasannya kenapa dan sesuatu telah disembunyikan Gani, entah apa itu masalahnya.
Perjalanan dari Sizuya Mall menuju ke rumah Gani kira- kira 15 menit, lama karena saya harus muter tempat yang sama sekali belum pernah saya sambangi. Setelah saya tanya kesana kemari, saya dikasih arahan sama ibu- ibu yang rumahnya sesuai sama alamat yang selalu saya kirimkan paket ke Gani. Rupanya gang keluarga ada 2, Gang Keluarga Barat dan Selatan. Gang Keluarganya Gani adalah yang Barat. Sedangkan saya nyasar di Gang Keluarga Selatan. Langsung saja dengan gerak cepat kami meluncur ke Gang Keluarga Barat. Sempat si abang gojek ini nanya ke orang- orang lewat, diarahin ke Gang Keluarga yang saya maksud. Jalan sekitar 150 meter, disitu saya dan abang gojek nemuin satu gang, WTH ketemu ! Saya ingat- ingat rumahnya Gani. 
            Sebenarnya engga terlalu detail, karena waktu itu Gani masih sering pap selfie di depan rumahnya. Yang saya ingat, rumah warna hijau, ada kanopi, motor Beat lama warna hitam. Engga nyampe deretan 5 rumah, rumah yang dengan ciri-ciri yang saya sebutkan ditemuka dengan kondisi yang sama seperti foto yang pernah Gani kirim. Disitu saya langsung gagap dan memerintahkan abang gojek buat matiin mesinnya.
Saya benar- benar ngga punya kata- kata untuk sekedar ngobrol ringan nantinya kalau sudah tatap mata lagi, setelah terakhir Gani ke Malang. Dengan mengumpulkan keberanian, saya ketuk rumah Gani. Ketukkan ke 5 dengan salam 3 kali, pintu dibuka. Dan.. yang buka kakaknya Gani.

Abi: “Assalamualaikum kak, Ganinya ada lah kak ?” (dengan logat Medan sebisanya saya)

Kakak : “ Walaikumsalam, Ganinya lagi keluar kontrol gigi. Ini siapa ya ?”

Abi : “Saya Reyhan kak, kawan SMAnya Gani. Kebetulan saya baru pulang dari Surabaya kuliah di sana. “

Kakak: Oh ya, Gani udah dari tadi perginya sama mamak. Udah bikin janji lah klen ?”

Abi: Belum kak, saya tadi susah kali hubungin Gani jadinya belum bikin janji. Saya tunggu aja ndak apa- apa kok kak.”

 Kakak: “udah daritadi kok mungkin sebentar lagi pulang. Duduk aja dulu lah ya. Dari SMA mana dek ?” (entah si kakak lupa dengan kata- kata saya tadi atau hanya memastika kalo saya ini bohong,sampai detik ini pun saya belum tau. Asli saya deg-degan sewaktu ditanyain, takut salah jawaban).

Gani : “SMA 16 Medan kak. Kami sempat satu sekolah tapi saya lanjut kuliahnya di Surabaya kak. Ini saya sudah luluspun makanya pulang mainlah saya ke Medan.”

Kakak: “rumahnya di mana rupanya dek?”

Abi : “di daerah Sei Bahkapuran kak (ini tempat penginapan saya,untungnya alamatnya jelas jadi saya punya alasan ngejawab).

Kakak: “Oh gitu, lho kemari naik apa rupanya?”

Abi: “naik gojek kak, tadi langsung dari Plaza Medan menuju kemari”

Kakak: “yasudahlah ya duduk dulu, aduh camana ini Gani pun belum pulang juga rupanya. Kakak telponnya lah ya”

Abi : “ndak usah kak, mungkin lagi di jalan. Ndak apa- apa saya tunggu di sini.”

            Belum  lama masuk, si kakak datang dengan membawa air putih dan sekaleng wafer.

            Bukannya bosan menunggu, saya masih bingung mau ngomong apa nantinya kalau Gani datang. Saya telpon Lintang. Saya ceritakan kondisi dari awal saya tiba di Medan sampai detik itu di rumah Gani. Pada intinya, saya harus rileks. Bagaimanapun, Gani adalah pacar saya. Anggaplah obrolan sehari- hari yang sama seperti kemarin- kemarin kami obrolin.
Sepuluh menit telepon Lintang, dari kejauhan muncullah motor Beat hitam. Gani datang dengan celana training panjang, sweater abu- abu, topi abu- abu, dan memakai masker yang sedang memboncengi mamak.
          Telepon saya tutup, dan saya hanya tersenyum memandangi matanya. Pandangan teralihkan oleh mamak yang begitu anggun dengan pakaian busana muslimnya. Badannya tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar sebahu saya. Saya menyapa dan tersenyum ke mamak dari kejauhan. Saya yang masih duduk di teras depan, kemudian beranjak berdiri untuk salim ke mamak. Hanya obrolan ringan saja sebenarnya, tapi rasanya hal itu menjadi hangat. Benar- benar hangat dari aura pembawaannya mamak. Di sela- sela obrolan bareng mamak, Gani datang dan menghampiri saya. Mamakpun pamit untuk beranjak ke dalam rumah.
Saya gugup. Saya bingung conversation pembuka apa yang ingin saya sampaikan.

                             ............................................................


Gani : (dengan raut muka nahan senyum) “kok engga bilang- bilang?”

Aby: “kalo bilang- bilang buka surpraise dong namanya J

Gani : “dari kapan di Medan?”

Aby : “sebenarnya udah seminggu yang lalu di Simangambat, di Medan baru hari Minggu kemarin”

Gani: “hmm kok abi engga bilang sih”

Aby: “ya mau bilang gimana, Gani aja dihubungi engga ada respon juga”

Gani : “......, abi nginapnya dimana ini ?”

Aby : “ di daerah Sei Bahkapuran Gani, di deketnya Plaza Medan Fair”

Gani : “Abi sendirian la apa sama keluarga?”

Aby : “sendirian, keluarga udah pada balik sendiri- sendiri ke Jakarta, mba uut balik ke Surabaya”

Ada dua menit kami diam, dan saling bertatapan. Raut wajah Gani jelas menunjukkan antara heran, seneng, tapi susah untuk disembunyikan. All i knew she was  an introvert.


Gani: “Abi udah makan malam belum ?”

Aby : “sore tadi udah mampir di Suzuya, kalo malam ya belum”

Gani : “mau makan di rumah atau di luar?”

Aby: “abi sih maunya makan di rumah aja pakai masakkannya mamak, Cuma kalo Gani mau ngajak abi makan di luar ya ayok aja”

Gani : “makan diluar aja ya sekalian nganterin abi pulang penginapan”

Aby : “loh penginapannya abi jauh loh dari rumah Gani, nanti Gani pulangnya gimana ?

Gani: “engga apa- apa udah biasa pulang malam sayang, ini juga masih jam setengah delapan kok. Sekalian ngajak jalan kota Medan”

Aby: “yaudah abi pamit dulu sama mamak ya, Gani siap- siap dulu aja”

           Setelah saya pamit mamak, kami berangkat cari makan ke daerah Medan kota. Sebenarnya engga banyak perbedaan yang saya rasakan antara Medan dan Surabaya. Hanya saja, Medan lebih sempit daripada Surabaya ditambah pengguna jalan lebih ugal- ugalan. Bayangkan saja, dari rumah Gani ke Medan kota (jantung kota sekalipun berjarak 12 kilometer), kami engga pake helm. Nice, kan?
          Di sepanjang jalan, saya diceritakan beberapa sejarah kehidupan Gani selama hidup di Medan. Mulai dari rumahnya yang lama sewaktu SMP, SMPnya yang terletak sekitar 5 kilometer dari rumah Gani yang baru ini, sampai saya juga baru paham rupanya almarhum ayah Gani meninggal di usia Gani SMP. Selama perjalanan, sebenarnya saya merasakan banyak sisi terbuka Gani yang diceritakan ke saya. Termasuk alasan mengapa setelah kepergian Gani dari Malang, jarang sekali merespon Line saya. Bahkan sampai berminggu, tanpa alasan yang jelas, kabar yang valid. Sampai suatu momen, Gani angkat bicara saat kami masih berada di motor sebelum sampai tempat tujuan.

Gani : “sayang, abi tau engga kenapa akhir- akhir ini Gani diem ke abi? Gani engga respon chatnya abi, telponnya abi?”

Aby: “ya engga tau sayang, Gani kan engga pernah cerita ke abi”

Gani: “sebenarnya sehari setelah abi yudisium, Gani lagi riset di lab. Gani tinggal ke kamar mandi agak lama. Rupanya hp Gani ketinggalan di lab,dengan posisi display layarnya egga lock. Disitu kayaknya abi ngeLine Gani. Kawan satu gengnya Gani , namanya Olva sama Yayan engga sengaja ngebaca pesan abi. Terus dari notifnya yang di layar, mereka baca pesan Linenya abi. Dari kamar mandi, Gani diinterogasi sama mereka berdua:

Olva Yayan: “Bong, kau kenal sama Abbyyu? Itu siapanya kau? “

Gani: “oh itu kawan aku SMP”

Olva Yayan: “kawan kau tapi kok sering tanya “udah makan sayang?lagi apa sayang? “Pake emot cium kayak gini maksudnya kekmana Bong?”

Gani: “ya biasa aja lah kawan iseng- iseng chat kekgitu. Kawan lama juga kok”

Olva Yayan : “kami pun punya kawan lama yang akrab kekgitu juga Bong. Tapi kami engga pernah chat sambil panggil sayang, pake kesan yang romatis kekgitu Bong. Kau kenapa Bong ?”

Gani : “kami berkawan biasa aja. Engga ada gimana- gimana”

Olva Yayan: “kami pun juga pernah liat foto kau di instagram, si abbyyu ini komen di foto kau pake kata- kata “ma girl”. Itu kekmana sih Bong? Kalo emang ko ada kecenderungan berpacaran sama abbyyu, aku saranin ngga usahlah kau lanjutkan. Kami ini kawan kau Bong. Kemarin kau ke Malang pun ngapain aja sama abbyyu itu. Kami khawatir Bong sama kau”

Dari pengakuan Gani yang seperti itu, Gani merasa mentalnya down. Karena Gani adalah satu- satunya orang yang tidak pernah bercerita masalah hidupnya ke siapapun. Bahkan untuk saya pun, Gani masih memasang tembok pembatas agar cerita hidupnya Gani sendiri yang mengkonsumsi.

Gani : “makanya Gani kan akhir- akhir ini engga pernah like lagi kan foto instagram sama facebooknya Abi. Karena Gani khawatir mereka liat aktivitas Gani di sosmed”

Aby: “sayang. Maafin abi ya. Mungkin gara- gara abi yang teledor, engga liat- liat waktu pas chat.
Abi engga seharusnya show off juga komen di foto ignya sayang, dan Gani pun juga respon di komen fotonya Gani. Maafin abi ya. Mulai sekarang, masalah Gani adalah masalah Abi juga. Gani jangan pernah merasa sendiri, jangan merasa down lagi. Sayang cerita lah ke abi. Abi bisa jadi cowonya Gani, jadi kakaknya Gani, jadi sahabatnya Gani bahkan abi berusaha bisa menjadi ayah dari Gani. Jadi, jangan pernah lagi memasang tembok komunikasi buat kita. Waktu Gani di Malang, abi juga pernah bilang hal yang sama kan ke Gani?"

Gani: “iya sayang. Maafin Gani juga. Gani yang sebenarnya teledor engga pasang password di hp. Ninggalin hp dalam posisi display layar kebuka. Abi jangan ninggalin Gani ya dengan kondisi masalah yang seperti ini (dengan kondisi tangan saya digenggam sembari saya meneruskan handle setir motor)

Abi : “iya sayang, abi janji..”

           Sebenarnya dalam posisi seperti itu, sayalah yang benar- benar takut kehilangan Gani. Benar- benar takut. Karena semenjak kejadian Erika, saya sudah move on total. Saya tidak berpikiran untuk mencari seseorang yang baru untuk menempuh hidup lagi, walaupun sekedar untuk menemani hari- hari saya di Malang. Saya mengerti, LDR hanya memakan waktu. Sebagian orang berkata LDR berakhir dengan tragis. Disini saya hanya percaya kekuatan Tuhan untuk tidak menyerah dengan kondisi dan tertipu oleh jarak. Tugas kita berusaha. Perkara dihargai atau engga itu udah urusan yang di sana.
           Pada satu poin dekat dengan alun- alun, kami berhenti di wilayah kuliner Medan. Entah saya lupa nama tempatnya yang jelas banyak sekali makanan khas Sumatera. Karena bingung memilih, saya pasrahkan saja ke Gani. Pilihan tertuju kepada sate Padang. Di sana saya pesan satu porsi. Gani pada kala itu selepas ganti bracket behel engga mau pesan sate. Jadi Cuma lontong pakai bumbu sate Padang. Suasana malam itu saya rasa begitu romantis. Ya meskipun alakadarnya, makan pinggiran jalan, ditemani alunan pengamen yang suaranya entah itu titisan dari surga, dan yang paling vital adalah, kamu. Kamu yang sedang duduk di depanku. Di kotamu. Suatu janji yang pernah saya ucapkan ke Gani jika suatu saat Tuhan menghendaki kami bertemu kembali, i’ll find you, wherever you go.

 #Now playing: I’ll Find You- Kunto Aji

            Saya pesan Lewi House sebenarnya sewaktu di Simangambat kemarin. Yang saya lihat pertama kali dari hotel ini adalah dekat dengan Medan Kota. Dibanding dengan beberapa hotel, hotel ini juga lebih gampang dijangkau, jadi sewaktu- waktu Gani mau main ke penginapan jaraknya engga jauh- jauh banget dari kampus. Saya sudah bilang sewaktu Gani ngantar saya ke hotel setelah makan malam pertama kali kalau mampir saja kalau ada waktu luang. Utamakan risetnya dulu dan skripsinya juga. Masalah saya mau main kemana- mana sebenarnya gampang saja. Medan pun sudah banyak transportasi online. Tapi yang saya banggakan dari Gani adalah seberapapun sibuknya dia pada saat itu, Gani tetap meluangkan waktunya meskipun hanya sekedar mampir ngantar sarapan.
Setiap paginya selalu Gani bertanya sudah sarapan atau belum. Kalau belum, Gani pasti berangkat dari rumah bawakan nasi gurih, lengkap dengan lauk ayam kari. Pagi yang indah ketika saya bangun pagi, sarapan berdua, tepat di depan saya ada Gani. Gani yang saat itu lebih sering menyulang saya. Menyulang dalam bahasa Medan berarti menyuapin. Hampir setiap pagi selama 7 hari saya di sana, aktivitas ini yang kami lakukan.
           Di sela- sela kami ngobrol sore hari, entah kenapa saya punya pikiran untuk beli cincin. Ya meskipun masih sangat jauh dari kata menikah ataupun tunangan, tapi pada saat itu saya berpikir untuk tanda pengikat saja.

Abi : “sayang ayok beli cincin. Ya engga usah yang maha- mahal engga apa- apa sekedar untuk pengikat aja”

Gani : “...... . cincin buat suami istri kita masing- masing sayang?hehe”

Abi :  (saya Cuma diam saja, bingung nanggepnya gimana. Tapi asli, hati saya ngilu dengernya meskipun tujuannya bercanda. Saya overthink, yang jatuhnya jadi kearah melamun. Saking kelamaannya saya melamun, sampai saya ditegur Gani).

Gani : “sayang maafin Gani ya. Gani tadi bercanda kok. Iya- iya nanti kita beli cincin yah. Sayang kerja dulu, nabung ngumpulin uang baru kita beli cincin yah. Udah ya jangan sedih lagi”.

              Seketika itu juga Gani menyium kening saya dan memeluk saya erat- erat. Memang benar ternyata pelukan yang diberikan dari seseorang yang kita sayangi adaah obat ketika sedang bersedih.

Di malam harinya, Gani menghampiri saya ke penginapan. Rencana ini sudah dischedule dari siang. Sekedar ingin jalan- jalan malam aja sebenernya. 
Tujuan pertama kita adalah makan durian. Hahaha. Kapan lagi ya kan bisa makan durian medsn di kota Medan. Referensi yang saya dapat cuma durian Ucok. 
Fun fact, saya baru sadar kalau ada orang asli Medan engga suka durian. Terbukti banget waktu saya ngajak Gani makan Durian Ucok. Dia suka aroma durian, tapi engga suka kalo makan daging buahnya. Saya dikasih tau kalau Durian Ucok mahal Cuma menang brand doang. Ada lagi yang lebih murah dari Durian Ucok. Namanya Durian Palawi. Bandingannya satu kotak tupperware kira- kira memuat satu buah durian harganya Rp 50.000 di Ucok, dengan harga Rp 45.000 kita bisa dapat satu kotak tupperware durian. Sebenarnya saya mau beli dua buah durian hahaha. Niatnya sih mau nyuap Gani tapi percuma aja. Jadinya yaa dia Cuma nemenin saya makan durian, tanpa ngikut makan. Poking pinggangnya aja engga mau, apalagi saya suapin satu biji durian.

Perjalanan kuliner selanjutnya berhenti di salah satu rumah makan mie Aceh. Saya lupa nama rumah makannya apa, tapi yang jelas rumah makan ini alternatif dari Mie Aceh Titi Bobrok Medan. Awalnya sih saya minta ajak makan disana, tapi Gani merekomendasikan alternatif lain karena cita rasa Titi Bobrok yang sekarang tidak seperti sebelumnya. Yaa sudah, saya ngikut aja.
Lagi lagi Gani enggak makan banyak, saya yang kelaperannya setengah hidup, bisa pesen Mie Aceh kuah dan iga bakar. Gani, cuma pesen nasi dengan sup buntut. Cita rasa Medannya dimana coba itu bestie?

               Sambil menyantap kudapan makan besar, kami lebih banyak membicarakan aktivitas selama di kota masing- masing. Kemudian perbincangan dilanjutkan dengan obrolan wisata ngebolang besok harinya.
Sebelum saya ke Medan, saya liat timeline instagram, Gani upload foto di salah satu pegunungan Berastagi. Pada awalnya dituliskan lokasinya di Ranupanee. Kemudian saya DM Gani, rupanya foto itu di daerah Berastagi.
Nah pada awalnya saya mau ngajak Gani ke sana. Ya sebatas iseng- iseng aja nanya tempatnya di mana yang kemarin. Tapi setelah tau, rupanya jauh banget. Itu harus mendaki pegunungan memakan waktu berjam- jam. Belum lagi kalau camping. Sedangkan Gani sendiri seseorang susah untuk nginap di luar rumah. Bukannya engga mau, tapi untuk minta izin mamak benar- benar susah. Karena siapapun yang ada hubungannya dalam acara tersebut harus minta izin langsung ke mamak. Pastinya nomor kita juga harus disimpan di Handphone mamak. Karena saya juga engga mau ambil resiko, maka saya batalkan saja untuk camping di Berastagi.
Sebagai gantinya, Gani mengajak saya jalan ke Berastagi sepuasnya. Bayangin dong, dari rumah Marelan sampai ke Berastagi Gani bawa motor apaan? Honda CBR 150cc cuk. Wanita, tinggi badan sekitar 168cm bawa ginian. Saya pikir di awal dia bakal bawa Honda Beat yang biasanya dipake. Saya dari awal juga udah bilang kalo mau jalan kemana- mana bawa motor Beatnya aja biar saya bisa gantiin nyetir. Karena Gani entah kenapa engga mau digantiin nyetir kalo jalan, walaupun Cuma ngajak jalan ke kota pun dia ngga mau. Alasan utamanya, dia engga mau ngeliat saya capek, dia mau ngeliat saya enjoy selama saya di Medan sebagai gantinya beberapa bulan yang lalu saat kami sedang ada masalah. Termasuk sewaktu perjalanan ke Berastagi, pulang-pergi doi yang bawa. Saya takjub, banget. Wanita seperti ini harus segera diambil mantu.
               Perjalanan dari Medan Kota hingga sampai ke Berastagi kira- kira 2 jam, tanpa macet. Tujuan pertama kami adalah Taman Alam Lumbini. Sepanjang perjalanan, saya dan Gani disuguhkan perkebunan stroberi, sayur- sayuran. Mungkin kalau di Malang hampir mirip dengan Cangar. Cuma kalau Cangar lebih ektrim dan lebih dingin. Ada mungkin 11 derajad Celcius kalau di Cangar. Pertama kali menginjakkan kaki di Taman Alam Lumbini adalah  bangunan ini sebenarnya Vihara berwarna emas. Hasil kerjasama diplomatik Indonesia dengan Thailand. Kami sampai di Vihara hari Sabtu jam 12 siang. Tapi ramainya ngalah- ngalahin JatimPark. Di Medan, saya selalu izin ke Gani, boleh atau engga ngerokok. Ya tau sendiri lah. Kalo minta izin pasti engga boleh. Tapi kali ini saya benar- benar patuh sama omongannya Gani. Sekalinya engga ya engga. Termasuk kalau kami lagi jalan ke Taman Alam Lumbini. Saya berusaha menjadi apa yang Gani mau dan Gani harapkan. Begitupun juga saya. Saya selalu berdoa kepada Tuhan agar Gani menjadi orang yang saya harapkan.
Gani mengajak saya berkeliling Vihara. Awalnya dia mau nunjukkin ada jembatan gantung yang epic banget. Tapi waktu sudah sampai tempat, rupanya masih tahap renovasi. Kalau dilihat dari kejauhan memang bagus jembatannya. Terpaksa kami putar balik dan hanya berfoto di depan Vihara.
              Karena emang dasarnya lokasi ini ada  di pegunungan, selalu merasa angin sepoi- sepoi yang seger, meskipun suasana di sana terik. Sesekali Gani nawarin buat fotoin saya. Saking banyaknya pengunjung, foto yang saya dapat banyak banget bocor. Tapi bisalah diakalin dikit- dikit pake snapseed. Perjalanan kami di Vihara ini diakhiri dengan wefie. Terlihat agak messy sih, tapi saya enjoy aja sama hasilnya. Wajah kami memerah, hmmm mungkin karena kami termasuk bermuka sawo mateng  jadi kena matahari agak lamaan jadi meraaah merona.  
                   Perjalanan wisata kami yang terakhir adalah Bukit Kubu. Sebenarnya, Bukit Kubu ini bukan seperti namanya. Melainkan hamparan rumput yang sangat luas, berbukit- bukit (tidak terlalu pun tingginya), di tengah Bukit Kubu ada rumah adat suku Karo yang sebenarnya dipakai untuk tempat makan, toilet dan tempat singgah ketika pengunjung lelah bermain dan berlarian di bukit ini. Banyak juga pengunjung yang membawa tikar, makanan dan perlengkapan konsumsi lainnya dari rumah. Mereka duduk di bawah pepohonan yang memang sudah diseting oleh pengelola wisata hanya untuk sekedar ngopi, duduk sambil makan bekal yang sudah mereka bawa, nunggu anak- anak mereka bermain layang- layang. Sungguh pemandangan yang indah ditonton. Seakan saya membayangkan Gani sebagai istri saya sedang duduk beralaskan tikar, duduk ngopi sambil jagain anak kita, lari-larian main layangan. Angan yang sempurna..

Saya dan Gani memutuskan untuk duduk di kursi yang terbuat dari batu kali. Memesan 2 porsi indomie goreng, 1 teh hangat dan 1 kopi hitam panas. Karena disini udaranya sejuk dan segar, indomie dan kopi panas adalah paduan yang pas, disempurnakan dengan Gani yang duduk disamping saya. 
Sepanjang menghabiskan waktu disana, saya terus menatap wajah Gani. Mats yang bulat, bulu mata yang tebal, alis tebal, rahang yang kota dan rambut yang terlihat hitam pekat seakan menghipnotis saya untuk tidak akan pernah meninggalkannya, walau setelah ini,dengan hitungan hari, saya akan kembali lagi ke kota asal saya. 

Tidak ingin kehilangan momen sempurna ini, saya mengajak Gani ke tengah lapangan. 
Abi : " Gani, yuk ke sana. Beli layangan yah. Nanti Gani yang megangin layangannya, Abi yang yang narik senarnya.
Gani : "Okeeh. Tapi awas ya kalo layangannya sampe gak terbang. Gani tali Abi pake senar layangan terus gelindingin ke bawah bukit"
Abi : " Iyaa beres. Tapi ada syaratnya. Kita lari cepet- cepetan ke tukang jual layangan di ujung sana. Yang kalah, beliin bakso tusuk itu. Deal gak sayang?"
Gani : " Hmm. Kuy. Nantangin dia".

Dan sudah terbukti saya lah pemenangnya. Hahaha. Makanya kalo pagi sering joging dong .
Kekalahan ini berakhir Gani yang belikan baksi tusuk. Gani makan baksonya, saya ngenyot tusuknya.

Entah kebetulan atau memang kondisinya, ketika Gani udah megangin layangan, tidak ada sedikitpun angin. Hftt..
Feeling saya bakal gak bisa terbang ini. Dan benar saja. Udah capek lari-larian buat narik senar biar bisa terbang, yang ada endingnya tubuh saya diiket senar layangan sama Gani, berujung digelindingin sampai bawah bukit. Apess apes.

Sudah hampir jam 5, kami beranjak dari Bukit Kubu menuju Medan. Dan lagi- lagi saya tidak diperbolehkan untuk menyetir motor. Dengan alasan sama, tapi dengan kondisi yang berbeda. Karena cuacanya mendung disertai dengan gerimis, kami pulang dengan memakai jas hujan. Tahu sendiri kan tidak mungkin jas hujan yang disimpan di jok motor sport akan ada 2?. Jadi, bagian baju dipakai Gani, bagian celana saya yang pakai.
Sepanjang perjalanan pulang, kami sempat mampir ke rumah makan Padang yang sederhana. Tidak lama dari makan, kami melanjutkan perjalanan kembali.
Sepanjang perjalan pulang, tangan saya yang bisa dibilang besar ini terus memeluk tubuh Gani yang kecil. Melingkar sampai tubuh saya merasakan hangatnya suhu tubuh Gani. Sesekali kepala saya senderkan ke punggung Gani dan bekata ke Gani
"You're the best combination between love and home. I love you so much, Gani"
                             ...............................

Terhitung dari seminggu saya berada di Medan, dan mungkin juga sudah terlalu lama di penginapan, saya putuskan untuk beli tiket balik ke Surabaya tanggal 17 April 2017 jam 6 Malam. Sebenarnya juga banyak alasan untuk cepat balik ke Surabaya. Salah satunya karena saya tidak mampu untuk terlalu lama bersama Gani dengan jangka waktu yang bisa dibilang singkat, pada ujungnya kita akan pisah lagi, heheh. Drama sih, tapi memang benar begitu.
             Di hari- hari terakir saya di Medan banyak titipan oleh- oleh dari kaluarga dan teman- teman saya. Kebetulan juga hari itu sedang terik- teriknya matahari, jadi saya pesan oleh- olehnya lewat Go- Food. Dari ketiga macam oleh- oleh, saya pakai 2 akun Go- Food, punya saya sendiri dan punya Gani. Ngga main- main boy, 6 kilogram manisan jambu,2 kotak Napoleon dan 4 kotak Bolu Meranti. At least, ada jasa titipan juga buat saya hehe.

Di hari keberangkatan, Gani menyempatkan untuk mengantarkan saya ke Medan Plaza. Bukan untuk belanja, melainkan drop in saya di DAMRI untuk melanjutkan perjalanan ke Kualanamu. 

Dari kejauhan,beberapa bus DAMRI terlihat sudah siaga mengantarkan penumpang ke Kualanamu. 
Kebetulan saya dapat jadwal jam 3 sore. Saya mengintip jam tangan yang masih menunjukkan jam 14.05. Ini berarti saya punya waktu sekitar satu jam sebelum saya meninggalkan Gani. 
Kami berbincang seperti biasa. Hal apa yang akan kita lakukan setelah ini. Yang jelas, saya masih sebagai job-seeker dan Gani masih dengan melanjutkan skripsinya yang kini sudah memasuki bab 3.
Ketika obrolan hening, saya mendengar isak tangis dari raut muka Gani yang sedari obrolan hening tadi menunduk. Demi apapun, saya selama ini tidak pernah melihat Gani nangis. Suara paraunya terdengar ingin mengucap sesuatu dengan tangannya mengepal meremas celana jeans-nya. Kaget? Iya, banget. 
"Gani janji bakal nemuin Abi lagi. Abi janji ya enggak ninggalin Gani"

Tangisannya membuat saya merasa dihargai dan disayang. Merasa tidak ada pria yang bisa menggantikan posisi saya disamping Gani. 
Entah kapan lagi saya bisa bertemu dengan Gani setelah kepergian saya ke Malang. 
Saya menyibakkan rambutnya,dan menyisihkan air matanya Gani yang pada awalnya tidak mau menampakkan wajah sedihnya. Saya peluk dan mencium kening Gani berjanji untuk menemuinya kembali, saya benar- benar berjanji pada saat itu. Saya peluk Gani dan saya bilang :
“Abi janji, abi ngga akan berpaling dari Gani. Abi ngga mau kehilangan Gani lagi. Abi janji bakal nemuin Gani lagi. Gani harus kuat ya seperti hari- hari dimana Abi belum ke Medan.”
Gani pun ngga bisa berkata apa- apa lagi. Namun saa tetap meyakinkan Gani. Mungkin kesedihan Gani hanya berlangsung sebentar. Saya tau pastinya seperti apa Gani dengan seluruh sifatnya. Dia bukan orang yang bisa memikirkan dan memprioritaskan saya. Mungkin setelah saya kembali ke Malang, keadaan "biasa- biasa saja" akan mudah dilalui Gani.
Tapi untuk saya ? Saya seorang melankolis yang sulit berpaling dari keadaan romantis dan klisè seperti ini,bahkan untuk bertahun- tahun. Karena prioritas utama di kehidupan saya adalah orang yang saya sayang, orang yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kehidupan saya. Keluarga, pekerjaan dan Gani.


               Perjalanan saya di Medan pun, berakhir dengan sangat bahagia. Bahagia pertama adalah karena bertemu dengan keluarga baru dengan seluruh perbedaan adat dan  budaya yang sangat menarik dan tidak pernah saya temui selama hidup di Jawa. Keluarga baru yang bisa menjadi sumber semangat saya selama di Medan. Meskipun haru menempuh 12 jam dari kota Medan ke desa Simangambat, tapi perjalanan inilah yang membuat kami menemukan loyalitas baru. Bahagia yang ke dua adalah tentunya saya bisa bertemu dengan Gani, pun di kampung halamannya. Dulu, dulu sekali sewaktu kami masih SMA, awal kami bertemu melalui Facebook (season ini akan diceritakan di lain waktu karena sangat paaaanjang jalannya) kami hanya berandai- andai bisa bertemu, bertatap mata. Bertemu adalah hal yang impossible bagi kami berdua. Namun, segala ketidakpastian itu akan menjadi sebuah doa yang menjadi kenyataan ketika kita terus berdoa dan meminta kepada Tuhan. Entah kapan waktunya, entah dimana kita bertemu kembali, entah kapan kita mempunyai waktu bersama- sama lagi, Tuhan yang menentukan itu semua.
Well played.
               Sayonara sayang. Salam untuk kakak dan mamak di rumah. Abi sayang Gani..