Berawal dari tahun Maret 2012, hubungan saya dan mantan pacar
saya, Yenisa kandas. Bukan dikarenakan terdapat pihak ke tiga, empat, lima.
Tapi karena orangtua Yenisa memaksa kami untuk bubar. Karena kakak dan ibu
mereka Yenisa berpikir bahwa anak sekolah seusia SMA seperti kami belum pantas
untuk memanggil “sayang”, memberi perhatian lebih. Kami hanya remaja yang
dituntut harus mengikuti rantai peratuan orangtua. It’s okay, dengan langkah
yang mantap, kami bubar dengan cara yang baik- baik pula. Ngga ada dendam, ngga
ada marah hanya ada kesedihan, yang dulunya “Kami”, menjadi “Aku, dan Kamu”.
Dua bulan berlalu, di bulan Mei 2012, kegalauan masih
menyelimuti hari- hari saya. Tanpa disengaja, saya membuka Facebook di kala
itu. Tiba- tiba saya menemuka akun seseorang dengan wajah yang membuat saya
luluh dan sedikit mengurangi rasa galau. Tau orangnya siapa ?
She’s Gani.
.............................................
Saya mengirimkan tambahan pertemanan, selang setengah
jam, pertemanan saya di terima. Alhamdulilah..
Rifa Gani Nasution..
Saat itu, rasa malu dan naif saya terlalu besar untuk mendekati
wanita kembali. Sempat kami tidak bertegur sapa di wall karena bingungnya saya.
Akhirnya saya beranikan untuk bertegur sapa..
Aby : “Hai, terimakasih ya sudah di konfirm.”
Gani: “Iya sama- sama”
Aby : “Kenalin, nama aku aby. Nama panggilanmu siapa?”
Gani: “Hai aby, panggil Gani aja”
Okay, dari ketiga suku kata nama panjangnya, rupanya
dia dipanggil Gani. Hmm, nama yang belum pernah saya temui selama ini.
Dari nama belakangnya, mungkin kita sudah bisa menebak
orang manakah dia. Betul ! Dia adalah seorang Batak. Lebih tepatnya Batak Melayu.
Menurut cerita Gani, Batak Melayu datang dari suku bangsa Batak Angkola yang
dominan muslim. Mainset saya pada saat itu adalah orang Medan rerata adalah
orang Non Muslin. Rupanya Gani adalah seorang Muslim.
Gani adalah wanita dengan watak pendiam, tidak banyak
melontarkan pertanyaan lebih cenderung menjawab apa yang saya tanyakan pada
saat itu, kalau dibandingkan dengan Yenisa yang rame, doyan ngomong, malah
Yenisa yang dominan di pembicaraan, kalau di kasus Gani, sayalah yang sering
ngajak ngobrol karena kalau sama- sama diam, ya gitu. Kayak nunggu masak nasi
tapi lupa klik tombol cook.
Kami suka membicarakan keseharian meskipun rasanya
seperti presentasi diri sendiri ke Gani hehe. Komunikasi pada saat itu hanya
bisa mengandalkan SMS boy. No IG, Line apalagi Whatsapp.
Kenapa ngga telponan
aja bang ?
Sempat beberapa kali saya ngajak dia teleponan, tapi Gani masih
menolak karena belum siap ngobrol sama saya. Belum siap loh ya. Saya bisa
maklumin kalau Gani orang yang pemalu, cenderung introvert. Jadi mungkin waktu
itu, banyak pertimbangan waktu kita nantinya telponan.
Gani tidak begitu menyukai olahraga, tapi dia adalah
orang yang pintar. Gani adalah seorang Paskibra tingkat kabupaten seperti
halnya saya. Dia selalu diajukan oleh guru- gurunya untuk mengikuti serangkaian
upacara di beberapa tempat. Kalau di sekolah, dia selalu menjadi langganan
petugas pengibar bendera. Dilihat dari fotonya, Gani mempunyai tinggi sekitar
167cm, berat badan sekitar 55kg, mempunyai wajah yang bersih hampir tanpa
jerawat. Sepenuhnya, saya suka semua yang ada di diri Gani. Wajah yang masih
polos dan paras layaknya wanita Melayu.
Pembicaraan di SMS kala itu tidak terlalu dalam
sebetulnya,ya hanya sebatas lagi ngapain, lagi dimana. Hal yang saya ingat
adalah ketika saya dan teman- teman saya pergi ke pemandian di Klaten, saya
SMSan dengan Gani. Saya jabarkan tempat yang saya kunjungi saat itu, tau- tau
dia bilang “wah jadi pengen ke Jogja hehe”.
It’s not possible gurl.. (1)
Hari- hari pun berlalu, akhirnya saya mengajak Gani
untuk telponan lagi.
...
Aby: “Gani, kita coba telponan mau engga?”
Gani: “ Tapi aku masih malu”
Aby: “Hmm, jadi belum siap lagi nih?”
Gani: “ Yaudah, kita coba ya. Tapi maaf nanti kalau aku Cuma respon yang kamu tanyain Bi”
Gani: “ Yaudah, kita coba ya. Tapi maaf nanti kalau aku Cuma respon yang kamu tanyain Bi”
Aby: “Iya Gani”
Gani: “ Agak maleman ngga apa- apa kan? Jam 10 keatas
nunggu orang rumah pada tidur dulu”
Aby: “Anytime”
..........handphone
is ringing.................
Saya: “Hallo
assalamualaikum Gani. Ini Gani kan ?”
Gani: “Walaikumsalam, iya
Abi ini Gani”
Subhanallah suaranya
lembut banget. Belum pernah saya nemuin suara seperti ini meskipun di
lingkungan teman- teman saya. Seperti yang dijanjikan Gani, dia hanya menjawab
apa yang saya tanyakan saja. Selebihnya saya yang ngoceh. Satu jam kurang kami
habiskan buat telepon. Seneng banget akhirnya saya ngga hanya bisa SMSan orang
dalam beberapa minggu saja, tapi akhirnya bisa juga dengerin suara Gani.
Hari- hari berlalu sangat
cepat. Telepon diatas jam 10 malam pun sudah biasa kami lakukan. Pada akhirnya,
kami setuju jadian. Hahahaha. Jadian tapi engga pernah tatap muka. Kalian heran
kan? Saya pun sama Gani juga heran. Kenapa kita waktu bisa setuju kalau ada
salah satu diantara kita bilang “jadi, sekarang kita pacaran ya?”. Kita, jauh
dari domisili masing- masing, 2.467km adalah harga yang harus kita tempuh kalau
kita masih punya tekad untuk jumpa.
Dalam beberapa bulan kami
jadian, kami sering banget bertukar pikiran masalah kebudayaan masing- masing.
Mulai dari logat Jogja saya yang dipandang lucu dan asing bagi Gani, baju adat
Jawa yang Gani pikir pengantin cowonya pakai sarung, hingga saya yang mencoba
menirukan logat Medan ala- ala sinetron yang rupanya kata Gani logat mereka itu
lebay. Sebetulnya orang Medan asli ngomongnya engga selebay itu. Kami juga
sering menanyakan pelajaran apa aja yang susah buat saya,susah buat Gani juga.
Terutama saya hahaha yang sering menanyakan tugas bahasa Inggris dengan
segudang grammar.
Waktu kami pacaran dulu,
kami sering sekali menanyakan kabar satu sama lain, ucap selamat pagi/ malam
(daily activity), masih sering banget SMSan di jam pelajaran, masih sering
banget cemburu. Bahkan kami juga sering mengkhayal dan bertanya- tanya,
1.
” Kapan ya kita bisa ketemu?”
2.
“ Kalo kita ketemu nanti ajak aku main
keliling Jogja/ Medan ya !”
3.
“Wah asyik ya Abi lagi berenang, boleh
dong ajakin aku renang juga !”
4.
“Aku kangen, sampai ketemu di mimpi yah !”
5.
“Tenang aja, sabar. Pasti ada waktunya
kita jumpa kok. Sooner or later (: “
Hubungan LDR dengan Gani saat dulu itu menurut saya
tidak tau nasibnya dibawa kemana. Kita sama- sama jauh. Kita sama- sama sayang
tapi jarak yang menghalangi kami. Sikap saya ke Gani waktu itu pun semakin aneh
dan berubah menjadi cuek, hingga sempat saya menghilang beberapa hari. Risau di
pikiran Gani muncul. I was made someone broken heart for first time. Yup, saya
adalah cinta pertama Gani. Dan Gani adalah cinta pertama yang saya anggap
serius sampai mau nyusul ke Medan. Dengan sikap saya yang jadi aneh, sering
ngga ngabarin Gani membuat Gani khawatir. Hingga pada akhirnya, saya meminta
putus dari Gani. Ya, saya seorang cowok yang meminta putus. Karena saya pikir
saat itu hubungan ini engga berguna. Engga akan ketemu titik temunya. Sempat
Gani memblok Facebook dan Twitter saya. Kami sama- sama menghilang. Kemudian,
kami menyambung kontak lagi setelah beberapa minggu setelah kejadian, saya
minta maaf atas kejadian lampau itu.
Meskipun kami sudah putus saat itu, tapi kami sering
menanyakan kabar. Bagaimana belajar di skolahnya. Jadi, sebetulnya setelah
putus kami bukannya jauh tapi malah dekat, bedanya tanpa status.
Tetap pada impian kami berdua yaitu nabunglah. Siapa
tau kita bisa ketemu suatu saat nanti. Entah kapan, tapi tidak untuk jangka
waktu dekat ini.
#Now
Playing: The Script- Six Degree of Separation
Di tahun 2012 akhir, ayah saya ditugaskan ke Jambi.
Sesekali saya ikutan ke Jambi kalau musim liburan panjang. Memang jarang banget
orang orang ke luar Jawa pada saat musim liburan panjang kala itu. Selagi di
Jambi, saya kepikiran Gani di Medan. Saya pernah diskusikan ke Gani gimana kalo
saya ke main ke Medan. Lumayanlah sehari semalam perjalanan bis. Tapi waktu
saya minta izin ke Bapak, ngga dibolehin. Karena saat itu engga ada sodara pula
yang tinggal di Medan, perjalanan pun juga sehari semalam. Takutnya udah capek
di jalan.
Okay. Saya hormati keputusan bapak waktu itu.
Setahun berlalu, hubungan saya dengan Gani masih
seperti dulu. Masih seperti pasangan tanpa tali. But, kita enjoy dengan segala
kondisi. Kita sama- sama memberikan motivasi untuk lulus UNAS dan bisa masuk
perguruan tinggi negeri lewat undangan.
Selepas UNAS, alhamdulilah bapak masih dinas di Jambi.
Saya masih punya kesempatan terakhir at least kalo engga bisa ketemu Gani, saya
bisa lebih lama di Jambi selagi menunggu pengumuman kelulusan. Di kala itu
hubungan saya dengan Gani sedikit seret semenjak beberpaa bulan terakhir
menjelang UNAS. Positif thinking karena mungkin Gani sedang fokus juga, saya
saat itu betul- betul tidak pernah seserius saat ini memikirkan hubungan dengan
Gani. Tujuan saya saat itu hanya ketemu, keliling Medan untuk beberapa hari,
kemudian pulang Jambi. Pada akhirnya saya izin lagi ke bapak untuk berangkat ke
Medan. Awalnya bapak menanyakan yakin atau engga ? karena perjalanan yang
panjang dan sisa liburan saya di Jambi tinggal katakanlah pada saat itu 4 hari
lagi. Saya mantap bilang “ya”. Tapi setelah dipikir kembali, waktu saya hanya
habis di jalan 2 hari untuk pulang- pergi. Jadi saya Cuma dapat 2 hari liburan
disana. Engga akan maksimal. Jadi, saya simpulkan ke Gani dan bapak, kalau saya
engga jadi ke Medan.
Saya kembali minta maaf ke Gani karena batal lagi ke
Medan. Padahal jaraknya pun engga sejauh Jogja- Medan. Tapi malah gagal terus.
Alhamdulilahnya, Gani masih bisa ngerti kalo saat itu bukan rezekinya kita
untuk jumpa. Mungkin waktu kita udah kuliah, atau kita udah kerja nanti.
AUGUST
2013
Alhamdulilah ! saat itu saya diterima di Universitas
Brawijaya Malang Fakultas Hukum, undangan pula. Gani, diterima di Universitas
Sumatera Utara Jurusan Teknik Kimia. Hahaha. Ilmu kami berbanding terbalik kan
? saya seornag ambivert yang kadangkala suka banget ngoceh bisa diterima di
Fakultas Hukum, sedangkan Gani seorang introvert diterima di teknik kimia,
kerjaannya Cuma ngelab aja jarang sekali berdiskusi. Okey, kami saling mengucap
selamat karena sudah diterima di masing- masing kampus harapannya. And the war begin started...
Saat- saat maba adalah saat dimana kami masih sibuk
menyesuaikan lingkungan baru. Kami mencoba untuk berkenalan dengan orang- orang
baru, pelajaran baru, kota yang baru pula untuk saya. Saya pikir hubungan saya
dengan Gani sebetulnya masih kontakan tetapi tidak sesering waktu SMA dulu.
Kami sama- sama bisa memaklumin keadaan tersebut. Jadi, dalam setahun
dari 2013 sampai 2014 hubungan kami tidak ada tali pengikat tetapi masih saling sayang.
Kami masih tegur sapa di SMS, tapi tidak untuk telepon. Kami jarang menemukan
waktu yang bagus untuk telepon. Sedangkan Gani tidak pakai BBM waktu itu, jadi kami
masih ngandalkan SMS.
Di tahun ke dua kami kuliah, saya masih tetap dengan
teman- teman saya yang sama sekali tidak ada yang masuk organisasi. Jadi saya
pun juga terbawa suasan oleh mereka. Kerjaan saya hanya kuliah, rokok depan
lobby, pulang kos, makan, tidur, kuliah lagi, rokokkan lagi, ngopi keluar,
jalan- jalan, berak tidur all the time. Jadi saya sama sekali tidak punya
kegiatan aktif di kampus. Sedangkan Gani, saya pantau dari Facebook, bergabung
di Organisasi Mahasiswa yang berbau Dakwah Islam Tour. Saya lupa namanya tapi
disini, Gani memegang peran lumayan penting di Organisasi di tahun ke dua kami
kuliah. Gani tidak pernah lagi memberikan kabar ke saya, even nyapa aja udah
ngga pernah. Setelah sekian lama Gani menghilang bak ditelan organisasi, saya yang
sudah sejak lama menggunakan Line tiba- tiba notif saya berbunyi.
Gani : “Hai aby jelek :p “
“Aku
udah pakai Line sekarang”
“Kita kontakan pakai Line aja yah”
Aby: “Hai Gani. Alhamdulilah udah pakai Line jadi ngga
SMSan lagi. Kamu gimana kabarnya? “
Gani: “Baik bii. Kamu gimana ? oh iya skarang aku
aktif di ormah. Alhamdulilah banyak kegiatan”
Aby: “ Syukurlah, apa aja kegiatan ormahnya?”
Saya lupa dialognya lagi hahaha. Yang jelas Gani waktu
itu memberikan angin segar yang menandakan kalau dia baik- baik saja... banyak kegiatan Ormah yang
harus dia handle. Dia adalah sosok wanita yang bertanggung jawab atas
pilihannya. Pilihan untuk menjadi pemimpin.
Kabar dari Gani hanya sekelibat seperti angin lewat. Kadang
dia muncul sesuka hati, sering pula dia hilang. Kadang chat lancar 30 menit
setelahnya hilang sampai berhari- hari. Pemandangan yang sangat biasa saya temui selama bersama Gani.Tapi entah kenapa rasa sayang saya
waktu itu tidak pudar, mungkin karena kesibukkan kuliah, kesibukkan berkumpul bersama teman- teman. Jadi seakan hal ini tidak menjadi beban pikiran. Waktu berjalan juga terasa sangat cepat, ditambah lagi saya punya pacar Denadri yang sudah saya mention di
post sebelumnya. Jadi rasanya engga terasa waktu aja kalo dia engga pernah ada
di hidup saya. Dia hanya sibuk dengan teman dan organisasinya.
Oh iya, kenalkan. Denadri ini adalah pacar saya selama di Malang. Tidak akan ada part tentang Denandri di blog saya tetapi saya akan bercerita sedikit mengapa saya punya pacar Denadri. Dan cerita ini ada korelasinya dengan bab Korua. Jadi kalian bisa menyimpulkan sendiri ya.
....................................
Di tahun 2013 ketika pendaftaran ulang mahasiswa baru, ada grup BBM yang berisikan anggota mahasiswa baru dengan jalur undangan. Salah satunya adalah saya dan Denadri. Jarak yang jauh dari Gani, menghasut saya untuk mendekati Denadri. Perjuangan mendapatkan Denadri pun dimulai. Singkat cerita, saya dan Denadri pun berpacaran. Jauh sebelum berpacaran dengan Denadri, saya pernah utarakan sebagian uneg- uneg tentang hubungan saya dan Gani .
Aby : "Gan, kalau semisal sekarang kamu mau pacaran sama cowok lain, aku gak apa- apa banget. Aku justru sangat berterima kasih karena ada yang yang ngejagain kamu. Tapi ingat satu hal. Aku punya kamu. Dengan kondisi seperti apapun kamu, aku akan tetap cinta sama kamu. Aku yang akan kamu tunggu. Hanya aku dan Tuhan yang tau rasa cinta aku ke kamu sebesar apa."
Gani : " Enggak Bi. Aku enggak mau masukin cowok di kehidupanku lagi karena aku punya kamu. Dan seperti halnya kamu bilang, aku gak apa- apa banget kalau kamu punya pacar di Malang. Biar kamu gak sendirian di Malang."
Dengan perasaan senang, saya mencoba untuk membuka hati ke wanita yang baru, Denadri.
Ketika masih tetap bersama Denandri, saya bosan dengan sikapnya Gani ke saya sehingga saya
disarankan kawan babi saya si Selpha Yudha untuk mendownload Tinder. Nah, ketemulah saya dengan
Erika (available di post sebelumnya).
Kemudian saya gagal dengan Erika dan Denadri, Gani muncul dengan
tiba- tiba lagi. Akhirnya saya menceritakan apa sebetulnya yang sudah terjadi.
Pada intinya setelah saya menceritakan kejadian
bersama Erika, Gani berjanji utuk
tidak akan membiarkan saya tersakiti oleh orang lain lagi. Dia berjanji untuk menjadi wanita yang
selalu ada buat saya. Dia pun meminta maaf kepada saya kalau Gani engga pernah
care sama saya, bertingkah aneh, sering hilang sendiri.
FYI, saat itu saya
belum paham kalo Gani adalah seorang mood-swinger. Yaitu dimana mood seseorang
mudah berganti dengan sendirinya tanpa tau kapan mood itu berganti. Misal, 5
menit chat atau ngobrol tau- tau dia diem sendiri ngerasa bete atau gundah eh
jadi marah- marah atau chatnya buntung. Nah itu yang dinamakan moodswinger. Intinya mood-swinger itu sussh untuk dimengerti kapan dia dalam keadaan mood yang bagus, kapan dia ada dalam mood yang jelek.
Tapi yang namanya sifat udah bawaan dari lahir, atau
mungkin Gani engga bisa kontrol emosinya sendiri, jadi hari- hari selanjutnya
saya dengan Gani ya tetap aja kayak biasanya. No care, no respect. Tapi, sejak
saat itu kami sering videocall Line, bahkan waktu siangpun saat mamak Gani
masih sibuk- sibuknya ngajar, jadi mungkin beliau juga jarang di rumah. Gani
adalah wanita yang sangat menghormati dan benar- benar menyayangi ibunya.
.............................
Kabar gembira datang dari keluarga saya. Kalau calon
suami Mbak Uut adalah orang Mandailing Natal. Hahahaha. Jadi kesimpulannya? Ada
kemungkinan saya bisa jumpa sama Gani.
Saya cari waktu yang bener- bener luang untuk cerita
ke Gani tentang rencana pernikahan Mbak Uut dengan Mas Ilul. Setelah saya
mencari- cari waktu, kami telponan sekitar jam 3 sore. Yang pada intinya, kami
menyimpulkan kalo kesabaran kami dalam menunggu, berdoa dan berharap ke Tuhan
agar bisa jumpa suatu saat nanti akan menjadi kenyataan.
Empat tahun hubungan kami
hanya bisa dinikmati lewat layar handphone, Oktober 2016 impian kami menjadi
nyata (:
Di hari minus 4 keberangkatan saya ke Mandailing
Natal, saya sudah kabarin Gani agar bisa jumpa paling engga di Kualanamu. Tapi
sampai di Hari H, tidak ada kabar sedikitpun dari Gani. Entah dia menghormati
kedatangan saya atau engga, jika memang dia engga bisa nemuin saya dan keluarga, hubungan kami
benar- benar engga ada artinya.
Tiga jam lebih perjalanan, jam 9 pagi kami tiba di
Bandar Udara Kualanamu. Handphone yang tadinya saya airplane sampai saya
aktifkan kembali, belum juga ada kabar. Saya telepon ke Gani engga ada jawaban.
Selang 10 menit saya menunggu bagasi keluar, handphone saya berdering dengan
background wallpaper nomor Gani. Saya angkat dan.....
Gani: “Hallo, Abi udah sampek ya? Sekarang lagi
dimana?”
Aby: “ Iya aku udah sampek, ini lagi nunggu bagasi.
Kamu dimana sih Gan? Jadi mau ke bandara engga?”
Gani: “Aku barusan sampai, kutunggu di kedatangan
domestik ya dibawah escalator (:”
Aby: “Oh udah sampai, bentar- bentar. Kamu pakai baju
apa Gan ?”
Gani: “ Aku pakai baju abu- abu yang kemarin dikirimin
kamu,hehehe”
Ada sekitar 2 menit saya mencari Gani, finally usaha tidak mengkhianati hasil...
Subhanallah,
saya tidak pernah berekspektasi lebih tentang fisik Gani, tapi disini saya
benar- benar amaze dan jatuh cinta kedua untuk kalinya ke orang yang sama. Memang sedikit banyak
perubahan fisik yang membedakan ketika pertama kali kami kenal lewat facebook
(secara dari 2012 saya belum berjambang berkumis), kini Gani berevelosi menjadi
wanita yang santun, anteng, kalem, murah senyum, wajah orang Sumatera suku
Melayu banget.
Wajah kuning langsat, wajah dengan rahang tegasnya, alis tebal, bulu mata yang tebal dan lentik, rambutnya yang bertekstur halus dan tebal. Mengenakan baju berwarna abu-abu terang bergambar pria menerbangkan origami, celana jeans biru navy dan sepatu sneaker berwarna hitam dan biru muda.
Kami berdua saling berpikir, ini kah yang dinamakan doa dan
sabar membuahkan hasil ? Kami, selama bertahun- tahun memiliki hubungan, engga
pernah tatap muka secara langsung. Dan di hari itu, segala penantian terbayar sudah. Kami saling
menanyakan bagaimana kabar masing- masing. Saya membuat sedikit lelucon
sehingga obrolannya tidak begitu garing, karena sejujurnya kami canggung dan
bingung mau berkata apa hingga waktu berjalan kurang lebih 15 menit. Keluarga
saya keluar dari pengambilan bagasi, kemudian saya menghampiri mereka dan
mengenalkan Gani kepada keluarga besar saya. Sedikit banyak Gani ngobrol dengan
Bapak, kadang juga sama Mama. Gunanya agar Gani juga bisa akrab dengan keluarga
saya, juga inisiatif saya untuk menunjukkan bahwa saya bener- bener serius
dengan Gani.
Saya perhatikan Mas Ilul sibuk dengan komunikasinya
untuk mengantarkan kami menuju rumah Tulang. Tulang disini sebutan seperti
Pakdhe. Kami semua berankat bareng menuju ke rumah Tulang untuk sarapan pagi
nih ceritanya. Saya juga ajak Gani untuk bareng sama kami. Tapi Gani naik motor
sendiri, padahal saya jauh hari sudah bilang kalau bawakan helm 2 untuk saya
satu. Gunanya ya supaya saya bisa satu motor dengan Gani ke rumah Tulang. Tapi
Gani lupa padah akhirnya Gani ngikutin kami dari belakang. Sepanjang perjalanan,
mata saya terus- terusan liatin ke belakang. Khawatir iya, admiring iya, seneng
iya, bingung iya karena sama sekali belum percaya sama kejadian tadi.
Momen yang paling sial adalah ketika travel kami
menuju jalan tol. Nah mulai disitu, saya kehilangan jejak motor Gani yang jelas
banget ngga bisa masuk tol. Ketika saya tanya Mas Ilul jaraknya rumah dari
perbatasan jalan tol tadi menuju ke rmah Tulang itu seberapa, rupanya jauh.
Hampir 15km. Khawatir mulai melanda pikiran saya. Bisa tidak ya Gani ngikutin
kami ?
Sesampainya di rumah Tulang , saya telpon Gani.
Aby : "Halo Gani, Gani sekarang dimana ?"
Gani: "Halo By, Gani mau otw ke kampus aja ya. Soalnya
tadi travelnya Abi jalan ke tol. Gani engga bisa ngikutin masuk."
Aby : "Terus gimana dong? Gani mau nyusul kemari apa
engga?"
Gani : "Kayaknya engga bisa Aby. Gani juga jam 11 ada
asistensi sama praktikan."
Aby : "Seriusan banget nih engga bisa? Padahal kita baru aja ngobrol sebentar loh di bandara"
Gani : "Ya gimana lagi sayang. Rumahya Tulang Abi juga
jauh dari sini."
Aby : "Yaudah kalo gitu Gani ikut ke Balige aja gimana?
Nanti biar Abi jemputnya Gani ke rumah,nanti biar Abi yang izin ke Mamaknya
Gani."
Gani : "Ngga bakal dibolehin Abii. Kawan- kawannya Gani
aja kalo ngajak nginap di luar pasti dimintain nomornya dan ditelpon terus, dan
juga Mamak percaya saya kawan- kawannya Gani yang sering datang ke rumah. Kalo
Abi kan engga pernah, nanti Mamak curiga sayang."
Aby : "Ya Allah... apa Gani nyusul aja ke Baligenya
naik travel ? nanti dibiayain sama orangtuanya Abi ?"
Gani : "Gani engga berani sayang, maaf ya mungkin bukan
rezekinya kita buat jumpa yang lama waktu."
Aby : "Ya udah Abi ngikut aja apa kata Gani. Abi
makasih banget ya udah mau dibelain waktunya buat nemuin Abi di bandara.
Padahal jaraknya jauh dari rumah Gani. Abi seneng banget doa kita bisa
terkabulkan sama Allah. Semoga Allah memberi waktu buat jumpa lagi ya biar kita
bisa banyak waaktu. Entah Gani yang ke Malang atau Abi yang ke Medan lagi..."
Waktu 15 menit kami pun terekam di memori kami masing-
masing.. Untuk mengagumi ciptaan Tuhan
dan kuasanya, bahwa sabar dan penantian pasti akan indah pada waktunya.
Agustus 2016
....................................
Selepas dari Medan, fokus acara keluarga kami itu ada
di Simangambat. Mungkin daerah ini juga sedikit asing bagi mereka. Simangambat
ada di Padangsidempuan. Masih masuk wilayah Madina.
Semenjak dari Medan yang pertama kali, hubungan saya
dan Gani untuk beberapa bulan kedepan bisa dibilang harmonis. Bahasan utamanya
pastinya tentang bagaimana kita bisa ketemu yang tadinya hanya sebatas impian
saja. Tentang bagaimana menghabiskan waktu dari tahun 2012 hingga 2016 dengan
hanya lewat sosial media hingga kami bisa jumpa.
Waktu terus bergulir hingga
saya memasuki bab skripsi. Entah ya, saya merasa sangat termotivasi
menyelesaikan skripsi karena sewaktu kami di Medan, Gani pernah mengatakan
“Cepat atau lambat, Abi atau Gani bakalan nemuin kita lagi, entah Gani yang ke
Malang, atau Abi yang ke Medan.”
............................................................................
OKTOBER 2016
Seperti yang sudah- sudah saya sebutkan, Gani bukan
cewe yang bisa terus- terusan chat panjang, sering saya mengalami baru setengah
jam chat, tau- tau Gani hilang sampai berhari- hari. Itu terjadi terus-
menerus. Tapi saya tetap sabar, mencoba positif karena Gani adalah anak
organisasi, asisten lab, pasti hari- harinya banyak dihabiskan kawan-kawannya,
praktikkan. Saya pun juga sering berpikir, sebetulnya Gani sayang ngga sih sama
saya ? Kenapa saya saja yang terus- terusan kangen, sering saya chat tapi balasnya
beberapa hari kemudian atau beberapa menit setelah update foto instagram. Memang,
cara untuk membangkitkan mood seseorang itu berbeda- beda. Tapi seringnya, kami
tidak terlihat seperti pasangan, lebih kepada teman-mesra. Bahkan
setelah kami bertemu sekalipun, Gani masih sering memunculkan sifat acuhnya ke
saya. Hingga pada akhirnya, sekitar bulan Oktober akhir, Gani chat Line ke
saya. Gani tanya:
Gani : "Abii sayang, lagi sibuk apa sekarang ?"
Aby : "Paling
kalo hari biasa cuma bimbingan aja sayang ke dospem. Lain- lainnya si udah
engga ada kuliah lagi."
Gani : "ooh, kira- kira awal bulan November ada acara
engga sayang ?"
Aby : "kayaknya engga ada, kenapa sayang ?"
Gani : "Gani
bisa minta tolong ngga ? awal November kawannya Gani ada ikut rapat ke Malang.
Nanti Abi bisa kan nemenin ? tenang aja anaknya engga rewel kok sayang hehehe."
Aby: "InshaAllah bisa sayang, kasih kontaknya Abi aja
ya nanti kalo ada waktu Abi ajak jalan kawannya Gani. Udah dapat penginapannya
belum sayang ?"
Gani : "Iyaa sayang. Makasih ya udah dibantu. Udah
dapet penginapan kok Bi."
Sudah seminggu berlalu tapi ngga ada kabar berlanjut.
Maksud saya, kalo memang temennya Gani jadi ke Malang, saya bisa cancel janjian sama kawan
kawan saya kalau mereka punya rencana nongkrong.
Di hari Selasa, saya punya janji dengan kawan saya
dari Solo buat ngambil paketan di JNE. Kebetulan sepatu saya sempat ketinggalan
di Solo, jadi saya minta tolong anaknya kirim ke Malang saja. Disaat yang
bersamaan, sebelum saya rencana ke JNE, saya dikabari Gani kalau sekitar jam 10
pagi, kawannya Gani udah sampai di Surabaya, dari Surabaya ke Malang kawannya
naik travel. Jadi paling ngga saya bisa jemput dia di kampus fakultas teknik.
Tapi yang ganjal, kawannya ini tidak ada hubungin saya sama sekali. Ini gimana
saya mau nanya itu anak udah sampai mana? Masa iya harus via Gani dulu baru
dikasih tau ke kawannya Gani ? Ribet ngga sih. Yaudah daripada saya juga harus
nunggu kawanya Gani, saya ngambil sepatu saya aja, karena jadwal sampainya
molor 3 hari dari estimasi. Sesudah saya sampai di kantor gudang JNE, saya
masih nunggu kurang lebih 2 jam dan
banyak banget orang yang dateng untuk komplain masalah keterlambatan paket. Ahh
saya menunggu tapi dengan pikiran nyabang ke kawannya Gani. Sejam saya
menunggu, Gani Line ke saya kalo temennya udah sampai di fakultas Teknik dengan
rombongannya. Saya sempat berfirasat “ kok ada yang aneh ya? Apa jangan- jangan
yang ke Malang itu Gani ? bukan kawannya?”
Kemudian saya minta maaf ke Gani kalo saya lagi nunggu
paketan dan ngga bisa tepat waktu nemuin kawannya Gani. Satu jam kemudian, Gani
ngirim foto ke saya. Kalian tau foto apa yang dikirimkan Gani ? Mangkok bakso
Malang, di tangan kanannya ada name tag bertuliskan “Rifa Gani Nasution,
delegasi HIMA Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara, lengkap dengan
fotonya”.
ARE YOU KIDDING ME ?
Bodo amat masalah sepatu, saya nyusul Gani ke kampus.
Tapi Gani bilang dia udah balik ke penginapan, di Panderman Hills. Gani juga
minta maaf karena niatnya mau bikin kejutan malah gagal. Saya Cuma bisa ngakak
sekaligus terharu, guys. Ini kayak mimpi yang menjadi kenyataan yang kedua
kalinya.
Saya bisa menjanjikan nyusul ke Batu sehabis maghrib, karena waktu itu
jamnya nanggung banget, udah jam stengah 5, mendung pula. Jadi saya bilang ke
Gani kalau sehabis Maghrib baru bisa ke Batu. Ya Tuhan, nikmat mana lagi yang
saya dustakan...
Bulan- bulan November 2016 kemarin sebetulnya lagi
deras- derasnya hujan di Malang. Mulai gerimis sebetulnya dari jam 3 sore
sampai habis maghrib. Syukur- syukur kalau sehabis maghrib udah kelar hujannya. Kadang bisa dari pagi sampai malam. Jadi, saya cari amannya aja ke Batunya, jam 8 malam saya baru meluncur.
Dari garis besar GPS-nya, sebetulnya engga ada masalah menuju ke
lokasi, cuma saya agak terhalang lokasi pasnya aja. Ini judulnya Villa
Panderman Hills, tapi dari JatimPark 2 masih naik ke atas lagi kira- kira 1 km.
Begitu sampai di gerbang masuk, saya bertanya ke penjaga :
Aby : "Permisi pak, mau tanya lokasi menginap rombongan
fakultas teknik dari Brawijaya di mana ya ?"
Penjaga Villa :" Ooh, agak naik lagi mas. Nanti ketemu
pengkolan, mentok, belok kiri. Nanti disitu sudah kliatan ramai- ramainya kok."
Aby : "Ok pak terimakasih."
Deg- degan, iya. Lebih ke keringat dingin, tapi pakai
rasa seneng hahahha gimana deh tuh. Nah, sampai lah saya di antara gedung
pertemuan dan villanya. Haaaaaaahhh, nafas saya yang sedari tadi tidak beraturan saya coba lagi untuk menghela nafas panjang. Saya memberanikan diri untuk telpon Gani pakai
nomor mau nanyain saya harus nunggu sebelah mana karena saya sudah sampai.
Belum sampai telepon dimatikan, Gani ngeliat saya dari
jauh, melambaikan tangannya mengisyaratkan lokasi Gani berada. Sempet kehilangan jejaknya karena jujur lokasi Villa ini sangat luas dan gelap. Tiba- tiba seseoranf menepuk pundak saya dong.
Ketika saya melihat ke arah belakang, saya tepikan motor dan langsung memeluk
Gani erat- erat, mungkin kali ini untuk waktu yang lebih lama daripada di
Medan, bahkan pertemuan pertama di Medan pun tidak ada adegan pelukkan seperti ini.
Gani : "Abiii, Abi udah entar malu diliatin orang banyak
:/"
Aby : "Aaaa biarin, Abi seneng banget, bisa jumpa lagi dan first time meluk
Gani."
NOVEMBER 2016
Hari pertama saya dan Gani di Malang yaa Cuma di
villanya aja. Karena disana banyak banget peserta rapat, Gani juga ngga bisa
ninggalin villa. Jadi, saya juga nyamar jadi peserta anak- anak teknik hehehe.
Saya berusaha membaur dengan anak- anak teknik yang sebenarnya obrolannya
sedikit berbeda dengan anak- anak ilmu sosial. Mereka cenderung lebih ke serius,
kadang engga nyambung aja sama obrolannya. Di waktu itu, Gani ke Malang bareng
satu kawan seangkatan, Namanya Ankie, dan tiga junior, Reihan, Farhan dan Sobri.
Mereka semua tergabung dalam Organisasi Mahasiswa Dakwah Wisata FT USU (yang
sudah saya ceritakan).
FYI, realitanya ini bukan jatah Gani untuk ke Malang.
Jadi, sebetulnya ada kawan Gani yang seharusnya jadi peserta wajib rapat. Tapi,
entah karena ada keperluan mendadak, si kawan ini ngga bisa ikut. Langsung aja
si kawan ini minta tolong ke Gani untuk mewakili rapat. Awalnya Gani ngga mau
ikutan karena udah capek ikutan rapat, tapi setelah Gani tanya tempat rapatnya
di Malang, tanpa pikir panjang Gani langsung mengiyakan tawaran kawannya, toh
biaya transportasi bakal dipotong dari proposal, begitu katanya gaes hahaha.
Malam itu sekitar jam 11 malam, selama kurang lebih satu jam, saya jalan- jalan sama Gani mengitari villa. Ya meskipun udah malam, tapi tetap saya senang banget, banget. Karena sebelumnya kami bertemu dan berpisah di Medan (pertemuan yang pertama kali), kami bilang suatu saat nanti pasti kita akan ketemu lagi,entah saya yang ke Medan atau Gani yang ke Malang atau Jogja. Kenyataannya ? Giliran Gani yang ke Malang.
Dinginnya udara Batu benar- benar tidak saya rasakan malam itu.
Kami akhirnya berhenti dari langkah di tepian kolam renang. Dari depan kolam renang persis terlihat view Kota Malang.
Sempurna..
For the first time, dihamparan pemandangan kota Malang di atas kota Batu, saya genggam tangan Gani, saya nyanyikan sedikit lirik lagu Barry Manillow- Can't Smile Without You, di titik reff, we got first kiss that night. Our own night.
Mata kami terpejam, menikmati aliran darah yang terpompa dari jantung kami yang entah dari kapan berdebar-debar. Menyelimuti tubuh kami dari dinginnya udara malam itu yang cukup untuk mendinginkan air kolam. Saya belai wajah dan rambutnya yang telah lama menemani saya dari kami yang yang tidak bosan untuk menunggu.
Di titik ini, hanya ada sepasang remaja yang melepaskan rasa rindu mereka setelah sekian tahun jarak menjadi musuh diantara mereka. Untuk saat ini, mereka adalah pemenang diantara mesin waktu dan jarak.
Ciuman pertama ini, akan mereka kenang selama hidup mereka.
..............................
Selanjutnya, saya diajak Gani ikut pembukaan Rakorda Teknik Kimia, menyamar jadi anak teknik yang ecek- eceknya ngerti masalah kimia :p
Disitu saya dikenalkan dengan teman- teman Gani, agak canggung sih karena ini percakapan pertama saya dengan mereka. Ketika ditanya mereka tentang asal usul perkuliahan, mereka yang agaknya percaya dengan saya satu jurusan dengan mereka, tiba- tiba kaget bukan main karena saya dari fakultas hukum. Asli ya, kalau kalian liat ekspresi mereka langsung itu lucu banget kagetnya wkwkwkwkwkw.
Satu hal yang paten saya tau, Gani doyan banget sama Bakso. Jadi di sela- sela Gani rapat, keesokan harinya saya ajak Gani ke Bakso Damas. Karena Gani punya waktu sedikit di hari itu, saya jemput dari villa sekitar jam 4 sore. Katanya Gani penat. Ngga ada temen satu angkatan, cuma Ankie dan itu saja sedikit ribet anaknya. Katanya ya bukan kata saya. Jadi, ya saya jemput pake motor, kemana- mana kami selalu pakai motor. Sebelum ke Bakso Damas, saya ajak Gani ke Paralayang. Gani pengen banget naik paralayangnya. Sebenarnya paralayang disini nama lain dari Perbukitan di Batu. Biasanya lokasi ini dipakau untuk kehiatan olahraga paralayang. Makanya dinamakan paralayangt.
Awalnya, Gani pengen banget nyobain naik, tapi setelah saya bilang harganya 250ribu, doi ngga jadi hahaha.
Ada beberapa momen kami foto disana dengan berbagai gaya. Jungkir balik, kayang, nempel di dinding.
Ya tidak segitu,sih. Selang beberapa menit kita masih di paralayang daaan salah satu foto kamu diupload di Instagramnya Gani, sampai sekarang (6 November 2016-sekarang). Seperti biasa, kami engga pernah tag foto satu sama lain kalo postingannya ada salah satu dari kami, hehehe. Sama seperti pertemuan pertama kami di Bandara Kualanamu. Backstreet sampai segitunya ya gaes. Jadi seakan- akan kami foto sama temen sendiri.
Sedikit puas foto di Paralayang, kami solat maghrib dulu di kosan saya. Dan first timenya lagi kami solat berjama'ah. Impian banget kan bisa solat berjama'ah setelah 4 tahun menunggu berjumpa di kala itu. Setelah solat, kami sempat duduk sebentar. Duduk di lantai dengan bersandarkan kasur, kami sedikit bercerita tentang tugasnya selama 7 hari ke depan, bimbing adik tingkat. Lebih intens berdialog tentang hubungan kami yang harusnya bisa lebih baik dari sebelumnya. Gani sudah berusaha agar kami bisa sering memberi kabar, saya juga pesan agar jangan jadikan saya sebagai tempat singgahnya saja saat dia butuh, tapi juga kapanpun dia merasa penat, sakit, lelah, senang.
Di malam itu, di sebidang ruang penuh dengan kenangan, Saya kasih satu lagu ke Gani malam itu...
#Now Playing: HiVi- Pelangi
.............................
Selepas dari kosan, kami beranjak ke Bakso Damas. Kesenangan tersendiri adalah ketika pasangan kalian diajak makan makanan favoritnya. Nyenengin banget. Ngambil baksonya semangat, makannya lahap. Itu pun juga first time saya lihat Gani makan hahaha. Sebahagia dan sesimpel itu ngeliat pasangan kalian.
Kurang lebih setengah jam kami di Bakso Damas, saya nganterin balik Gani pulang ke Villa.
Butuh waktu sekitar 2 hari sekali untuk bisa bertemu Gani selama di Malang karena sibuknya dia ngurusin adek- adek angkatannya. Rombongannya Gani udah berencana selepas dari Villa, mereka nyewa penginapan di Malang kota.
Guess what ? Penginapan yang mereka sewa jaraknya tidak sampai 1 km dari kosan saya. Lebih sering bolak- balik penginapan- kosan buat ambil barang- barang saya. Kebetulan saya pesan satu kamar lagi buat saya dan Gani. di awal rencana, mereka cuma pesan 2 kamar. Jadi 1 rumah ada 4 kamar yang mereka sewa ada 2 kamar. Hari pertama mereka di Malang kota mau ke Bromo. Berhubung saya juga diajak, paling engga saya juga harus stay di penginapan juga dan nyewa satu kamar. For the first time juga saya ngeliat Gani tidur saking capeknya dia selepas membimbing adek angkatannya.
Oke saya btanya ke Gani rencana liburannya di Malang gimana. Angki disini menjadi bos diantara mereka dan udah ngatur sedemikian rupa buat liburan.
Liburan pertama kami ke Museum Angkutan. Karena di Malang adanya cuma motor, jadi kami pake cara tradisional kesananya. Naik angkot. FYI, saya belum pernah sama sekali ke Batu pakai naik angkot. Kecuali kalo dulu masih jamannya ngekos saya sering pulang dari terminal naik angkot subuh- subuh ke kosan. Menurut saya ini pengalaman baru sih.
Sangat lama sebetulnya kami di Museum Angkutan. Ya karena disamping saya ditemani Gani, cuacanya pun engga gerah bulan itu sekitar November akhir kalau engga salah. Giliran mau pulang, kami bingung dong cari angkot karena udah jam 4 sore. Oh iya, angkot jurusan ke Batu-Malang cuma sampai jam stengah 4 sore. Jadi, kami jalan kaki dari Museum Angkutan sampai terminal angkot Batu. Tuhan masih sayang kami dan akhirnya kami bisa booking angkotnya sampai ke rumah penginapan.
The biggest plan mereka adalah ke Bromo. Oke ini tanggal tua. Saya bilang ke Gani kalau engga lagi banyak uang untuk ikut patungan Jeep. Tapi Gani bilang ke saya kalau uang Jeep udah dibayar, jadi saya tinggal bayar sendiri buat beli tiketnya. Alhamdulillah rezeki udah diatur. Jadi, kami berangkat sekitar jam 1 dini hari dijemput Jeep.
Oiya, karena saya engga mau kelewatan momen selama Gani disini, jadi saya pesan 1 kamar lagi khusus untuk saya dan Gani. Buka apa- apa, cuma saya pikirnya kapan lagi bisa bersama dia ? Pertemuan dengan Gani pun yang itungannya lama, saya jadikan momen berharga.
Sambil menunggu jam 1, saya engga bisa tidur karena memang kalau ada deadline yang mengaharuskan saya tidak tidur ya saya engga tidur. But, what was i saw? Gani ketiduran di sofa. Cantik banget, anggun, kharismatik. Saya belai rambutnya, ucel- ucel rambut, kadang- kadang saya cium dahinya. Lalu saya bilang "Gani, udah mau jam 1. Bangun yuk kita siap siap".
Bergegas kami menuju ke Jeep karena udah dijemput nih ya. Jadi kami di Jeep masih dalam kondisi setengah sadar rek. Kali ini saya duduk di depannya Gani. Sesekali di perjalanan saya nyenggolin kaki saya, sesekali saya mainin kelingking tangannya yang udah dibalut sarung tangan.
Waktu udah sampai di Puncak Sunrise, saya sebetulnya pengen banget meluk Gani. Demi apapun karena ini kesempatan yang benar- benar engga bakal keulang lagi. Kalian bayangin ya, kalian LDR 4 taun baru bisa jalan bareng, di Bromo yang sunrisenya gila parah kerennya, hawanya dingin banget asli. Mungkin, kalo engga sama temen-temennya, Gani udah saya peluk dari awal. Masalahnya nih temennya si Angki saya punya feel dia anak yang mungkin annoying ya kalo masalah gitu haha,entahlah. Jadi satu- satunya cara ya cuma selfie doang. Setelah mataharinya udah mulai agak panas, kami diarahkan supir Jeepnya ke padang pasir. Nah disinilah kami bebas mau foto berjam- jam pun. Diajaknya saya naik ke puncak sama anak- anak, sebetulnya saya engga mau karena udah kesekian kalinya saya ke puncak dan bagi saya viewnya kurang bagus daripada di bawah padang pasir. Tapi karena saya liat antusiasnya Gani buat pengen naik ke puncak, jadinya ya oke aja lah saya keatas. Disana, saya dapat waktu berdua banget sama Gani. Percakapannya kurang lebih gini :
Aby : "Gan, engga ada yang nyangka ya kita bisa sampai puncak Bromo ya walaupun engga ada apa-apanya tapi Abi bersyukur bisa nikmatin Bromo yang kesekian kalinya. Dan lebih spesialnya ada Gani di samping Abi"
Gani: "Youre wellcome abi. Gani juga seneng banget bisa di Bromo sama Abi. Maaf ya ganggu waktunya Abi"
You're so fuckin lovelyyyy. Gemes banget kalo Gani nampak sisi introvertnya yang dia engga bisa mengungkapkan rasa senangnya lewat omongan. Hahaha. Tapi saya bisa rasain sewaktu Gani di Malang dan sampai detik itu di Puncak. Pacaran dengan seorang introvert adalah tantangan buat saya. Coba kalian rasain ya rek.
Kira- kira jam 1 siang Jeep kami sampai ke penginapan dan kami pun tertidur selama beberapa jam.
Mereka pulang ke Medan skitar 2 hari dari waktu ke Bromo. Karena menghemat pengeluaran juga, kami nyewa mobil buat saya supirin ke Surabaya. Karena pesawat ke Medan cuma ada lewat Surabaya. Jadi, mereka minta tolong saya buat nyupirin ke Surabaya, pake mobil rental. Saya ikhlas rek karena ada Gani :)
Malam sebelum kami berangkat, saya banyak pesan ke Gani kalau saya minta tolong kalau ada masalah atau apalah jangan dipendam sendiri. Jangan main diem- dieman karena saya engga tau maunya Gani apa. Terus kenapa Path-nya Abi ngga pernah di accept friendlistnya? Jawaban Gani dia engga mau aktivitasnya saya liat kalau chat-chatannya saya engga dibalas sama dia yang selama berhari- hari. Saya merasa sakit hati dengan teman- temannya dia yang selalu ada buat Gani. Saya ini pacarnya Gani kenapa engga pernah selalu ada seperti dia ada buat kawan- kawannya. Disitu saya ngomong sama Gani sampai nangis. Gani janji kalau dia bakal berubah dan bisa menjadikan saya prioritas seperti temennya. Di akhir obrolan, Gani kasih satu lagu buat saya ....
#Now Playing: Nsync- Promise You
Baju abu- abu muda bertuliskan RSCH dipakai Gani waktu dia pulang. Baju yang saya kadokan ke dia waktu ulang tahunnya ke 21 tahun. Saat- saat perpisahaan di Bandara Juanda emang bukan part favorit saya. Tapi disitu saya bisa lihat wajah Gani yang senang, enjoy dengan suguhan Malang, walaupun saya tau dia sangat sedih untuk sebuah perpisahaan. Saya engga bisa ngelepas Gani pulang. Saya engga bisa nahan dia untuk tetap stay sama saya. Saya engga bisa nahan sedih saya ketika Gani udah masuk pintu boarding. So long Gobong, love from here :)
#Now Playing: RAN- Dekat Di Hati

